A Thousand Years (Part 3)

Title : A Thousand Years (Part 3)

Cast : -Jessica Jung (SNSD)

-Lee Donghae (Super Junior)

-Taecyeon (2PM)

-etc

***

Annyeon readers! ^^

Maaf selalu lelet ngepost ini ff TT______TT *deep bow*

semoga gak bosan baca ff yang selalu update kelamaan ini TT

enjoy :))

*****

“Sica? Kau sudah bangun belum?”

Seruan Hyoyeon dari dapur menyadarkan Jessica dari lamunannya. Ia baru saja bangun tidur—dan seperti kebiasaannya—Ia duduk diatas ranjangnya dulu sampai rasa kantuknya hilang. Ia mulai bergerak turun dari ranjang sambil mengatakan bahwa ia sudah bangun.

Jessica berjalan menuju dapur dan melihat Hyoyeon yang sedang sibuk menyiapkan sarapan—walaupun hanya roti panggang atau sandwich.

“Oh, tumben kau sudah bangun” Kata Hyoyeon sambil meletakkan sepiring sandwich di meja makan. Jessica menarik kursi dan duduk disana, sambil memandang Hyoyeon. Lebih tepatnya, kakinya.

“Kakimu… sudah tak apa?” Tanya Jessica. Hyoyeon tersenyum. “Sudah sembuh, kok. Tak perlu khawatir, hanya terkilir”

Jessica mengangguk.

Hyoyeon memukul tangan Jessica saat tangannya hendak mengambil sandwich. “Cuci muka dulu baru makan”

“Cih, dasar ibu-ibu” Gumam Jessica. Ia mengangkat kedua kakinya keatas kursi dan memeluknya.

“Oh iya..” Gumam Hyoyeon sambil meletakkan 2 cangkir teh ke atas meja. Ia duduk dikursi dan menatap Jessica dengan wajah penuh selidiknya. “Bagaimana bisa dia mengantarmu?”

Jessica mengerjap. “Siapa?”

Dia

“Dia siapa?”

“Kau tentu tahu siapa yang kumaksud” Hyoyeon menekankan kata-katanya lalu tersenyum nakal. “Nah, kau tak bisa mengelak lagi sekarang. Ayo ceritakan padaku.”

Jessica mulai beranjak berdiri. “Aku… cuci muka dulu..”  lalu pergi menuju kamar mandi.

“Malah kabur. Dasar” cibir Hyoyeon lalu menggigit sandwich buatannya.

Jessica menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Ia bergerak menuju wastafel dan membasuh wajahnya dengan air. Rasanya dingin.

Jessica menatap wajahnya yang terpantul dari cermin yang ada didepannya, lalu menghela napas. Gara-gara Hyoyeon, ia jadi ingat kejadian semalam.

Saat dirinya membiarkan Lee Donghae, orang yang belum terlalu dikenalnya, mengantarnya pulang.

Semua hal yang terjadi semalam pun terputar di otak Jessica layaknya film—tanpa bisa dicegahnya. Ia jadi ingat saat Donghae mengambil alih belanjaannya dan memberikannya kantung belanjaan yang paling ringan. Ia ingat saat mereka berjalan berdampingan menuju stasiun. Saat itu ia hanya diam, sementara Donghae malah asik berbicara hal-hal yang menurutnya tidak penting. Saat di kereta, karena penuh, mereka tidak kebagian kursi dan harus berdiri. Jessica bediri sambil menyandarkan kepala di dekat pintu kereta, sedangkan Donghae berdiri tak jauh dihadapannya.

Saat Jessica asik melamun, tiba-tiba saja tangan Donghae mencengkram tangannya dan menariknya. Dan yang Jessica tahu selanjutnya mereka berdua sudah duduk di kursi. Ia memandang Donghae yang saat itu tertawa kecil sambil bersyukur mereka akhirnya kebagian kursi.

Saat mereka sudah sampai di gedung apartemen Jessica, Donghae bersikeras mau membawa belanjaan Jessica sampai depan apartemen Jessica, sedangkan Jessica terus saja menolak dan berkata ia bisa membawa belanjaannya sendiri. Akhirnya Jessica mengalah, dan membiarkan Donghae mengikutinya sampai didepan apartemennya.

Jessica merasa tak perlu mengajak Donghae masuk, karena ia merasa tak pernah mengajak Donghae ke apartemennya atau apa. Jadi saat mereka sampai didepan pintu apartemennya, ia hanya membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.

Keadaan menjadi sangat canggung saat itu, dan karena tak tahu harus berkata apa, kalimat kau-boleh-pergi-sekarang lah yang diucapkan Jessica.

Jessica menggigit bibirnya. Ia merasa bodoh saat mengingat dirinya mengucapkan kata-kata seperti itu. Kesannya seperti mengusir. Jadi kelihatan tak sopan, padahal ia sudah membantunya.Tapi… tak apa-apa kan? ia kan tak pernah mengundangnya atau memintanya mengantarnya sampai ke apartemennya. Donghae sendiri yang menawarkan diri untuk membantu. Jadi Ia tidak salah.

Ck, kenapa ia jadi memikirkan hal bodoh seperti itu? Jessica menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan. Itu bukan hal penting, jadi ia tak harus memikirkannya atau mengingatnya.

Ia tak punya waktu untuk memikirkan hal bodoh seperti itu.

Gerakan Jessica terhenti saat ia mau mematikan keran yang sedari tadi belum dimatikannya.

Tunggu dulu…

Kenapa Hyoyeon bisa tau?

Kenapa Hyoyeon tau ia diantar oleh orang itu?

Apakah Hyoyeon melihat mereka berdua?

Tadi malam, Hyoyeon memang membukakan pintu untuknya, tapi saat itu ia tidak melihat Donghae karena Donghae sudah pergi.

Lalu, bagimana ia bisa tau?

Semalam karena sudah terlalu merasa canggung, Jessica langsung masuk ke kamar dan tidur, walau ia sangat kelaparan.  Ia terlalu malas untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan Hyoyeon—“Jung Jessica, bagaimana bisa kamu membawa kantung-kantung belanjaan sebanyak ini? Apakah kau blablabla—yang membuat Jessica bingung harus berkata apa.

“Aigoo..” Jessica mengacak-acak rambutnya.

Kalau sudah begini, ia jadi susah mengelak. Hyoyeon emang jenis orang yang suka menginterogasi orang, apalagi dirinya.

Dengan sekali gerakan, Jessica mematikan keran air tersebut dan keluar dari kamar mandi.

Sambil berharap ia tak akan diserbu oleh pertanyaan-pertanyaan konyol Hyoyeon saat ia kembali ke ruang makan.

***

Donghae menyesap pelan kopinya sambil memperhatikan pemandangan jalan raya yang sudah mulai dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu-lalang—yang bisa ia lihat dari kaca besar dari apartemen kakaknya itu.

Tiba-tiba Donghae tersenyum kecil. Entah kenapa, ia merasa sangat bersemangat hari ini.

Benak Donghae pun melayang pada kejadia semalam, saat ia mengantar Jessica ke apartemennya.

Gadis itu benar-benar gadis yang dingin dan pendiam. Bahkan ia tak mau repot-repot membuka mulut untuk mengajak mengobrol.

Jadi yang Donghae lakukan hanya berkata hal-hal kecil yang bahkan tak dipedulikan oleh gadis itu.

Ia berkata bahwa musim gugur kali ini sangat dingin, dan ia tak tahu kenapa. Saat melewati sebuah blok, ia berkata kepada Jessica bahwa ada sebuah toko penjual bungeoppang terenak didunia. Tapi gadis itu bahkan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar celotehan Donghae.

Ia hanya berjalan sambil mengatupkan mulut, diam.

Saat di dalam kereta, mereka harus berdiri karena tidak kebagian kursi. Tapi saat di stasiun berikutnya, beberapa penumpang yang duduk keluar dan dengan cepat Donghae menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya di kursi yang ada.

“Akhirnya kita kebagian kursi juga,” Kata Donghae saat itu sambil tertawa kecil, Sedangkan gadis itu masih mengerjapkan mata kaget karena tiba-tiba ditarik olehnya.

Donghae tersenyum kecil saat mengingat kejadian itu.

Ia juga ingat saat Ia bersikeras mau mengantar—lebih tepatnya membawakan belanjaan—Jessica sampai ke depan pintu apartemennya. Walau sudah berkali-kali menolak, akhirnya gadis itu menyerah dan membiarkannya ikut masuk. Dan saat sudah sampai di depan apartemennya, Donghae meletakkan belanjaan Jessica didepan pintu, dan saat itu juga gadis itu membungkuk hormat sambil mengucapkan terima kasih dalam bahasa formal.

“Tak usah formal begitu, santai saja” Ucap Donghae sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket.

Jessica kelihatan salah tingkah. Dan saat Donghae baru ingin membuka mulut untuk pamit, gadis itu malah berkata duluan, “Kau… boleh pergi sekarang…”

Rasanya Donghae ingin tertawa jika mengingat hal itu. Wajah gadis itu yang sedang salah tingkah sambil berkata seperti itu sangat lucu. Ia benar-benar tak bisa menebak apa yang akan dilakukan atau dikatakan gadis itu. Setelah  Jessica berkata seperti itu Donghae hanya tersenyum—walaupun sebenarnya ingin tertawa—dan pamit pulang.

Donghae menegak kopi di cangkirnya yang tinggal sedikit itu, lalu berdiri.

Saatnya mandi, lalu pergi ke kampus.

Kira-kira apa lagi yang akan terjadi jika ia bertemu dengan gadis itu?

***

Jessica meletakkan tasnya keatas mejanya dan duduk dikursinya. Rasanya ia malas sekali kuliah. Ia tidak bersemangat. Yah, sebenarnya, setiap hari  ia selalu tidak bersemangat. Ia jadi ingin bolos saja. Lagipula dosen yang mengajar hari ini juga sangat membosankan.

Jessica baru mau beranjak berdiri, tapi matanya menangkap seseorang yang berjalan menuju kursi disamping kanannya, yang sedang tersenyum kearahnya.

“Annyeong,” sapa Donghae dengan senyum manis. Jessica hanya mengangguk, dan mau tak mau kejadian donghae-mengantarnya-pulang kembali terputar di otaknya.

Jessica baru benar-benar ingin pergi keluar, tapi ia terlambat, dosennya sudah masuk ke dalam ruangan kelas. Jessica pun terduduk kembali. Rencana bolosnya gagal.

Merasa tak ada yang menarik, Jessica memalingkan wajah ke luar Jendela sambil menopang dagu, melamun.

***

“Yak, baiklah. Aku rasa ini sudah cukup untuk hari ini. Selamat siang!”

Donghae membalas kalimat ‘selamat siang juga’ kepada dosennya yang sudah melangkah keluar, bersamaan dengan seluruh teman-teman sekelasnya—kecuali gadis disampingnya ini. Gadis itu hanya terus melamun sambil menopang dagu. Ia bahkan tak sadar dosen yang tadi mengajar sudah keluar.

Sejak tadi Donghae terus memperhatikan gerak-gerik gadis disampingnya ini. Tak banyak yang ia lakukan, dari pertama dosennya masuk kedalam kelas sampai keluar, gadis ini hanya menopang dagu, melamun sambil memandang kea rah luar jendela, atau kadang mencorat-coret sesuatu di buku catatannya—tapi gadis itu bahkan tak pernah sekali pun mengangkat wajah untuk melihat dosennya yang sedang menerangkan itu.

Donghae tersadar. Ia langsung buru-buru membereskan buku-bukunya yang ada diatas meja saat melihat Jessica sudah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan mulai beranjak berdiri.

“Hei, kau mau kemana?”

Langkah Jessica terhenti mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya itu. Ia menoleh sedikit—walaupun tanpa menolehpun ia tahu orang itu adalah Lee Donghae, laki-laki yang duduk disampingnya—dan menggigit bibir. Ia pun memutuskan pergi, tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu.

Karena, ia merasa tak harus menjawabnya.

Karena, ia merasa lebih baik orang itu tak usah tahu.

***

Jessica menghentikan langkah kakinya dan berbalik, menatap tajam wajah polos Lee Donghae yang berada tepat dibelakangnya.

“Apa yang sebenarnya mau kau lakukan?” Tanya Jessica dingin.

“Aku?” Donghae menunjuk dirinya sendiri. “Kau bicara denganku?”

“Menurutmu dengan siapa?” Tanya Jessica kesal.

Donghae menoleh kebelakang, tidak ada siapa-siapa. “Oh, kau benar-benar bicara denganku, ya” Donghae terkekeh.

“Orang ini benar-benar…” desis Jessica pelan. Dari tadi Donghae terus mengekorinya kemanapun Jessica pergi. Membuat Jessica kesal.

Merasa bodoh karena berurusan dengan laki-laki itu, Jessica pun kembali melanjutkan langkahnya. Dan Donghae tetap mengekorinya dari belakang. Ia berjalan menuju taman belakang kampus, dan Donghae tetap mengikuti.

“Bisakah kau berhenti mengikutiku?” Lagi-lagi Jessica menoleh menghadap Donghae. Ia benar-benar tak suka tingkah anak baru dikelasnya itu. Seakan suka sekali mengganggunya.

“Aku? Mengikutimu? Aku tidak mengikutimu,” elak Donghae. “Aku memang ingin ke taman ini, kok. Bukan berarti ingin mengikutimu atau apa” Donghae berjalan santai menuju kursi taman yang tak jauh dari tempat dia berdiri, lalu duduk disana.

Rasa-rasanya Jessica ingin mengumpat melihat kelakuan laki-laki itu. Jessica pun segera pergi dari situ, meninggalkan laki-laki aneh itu yang malah duduk di bangku taman. Sepertinya laki-laki itu suka sekali mempermainkannya.

Dasar orang aneh.

Jessica mengecek jam tangannya. Sudah jam setengah 12.

Sebaiknya ia pergi ke rumah sakit.

Ia memang masih ada kelas jam 2 nanti, tapi ia lebih memilih menemani Taecyeon dirumah sakit, daripada mengikuti kelas dosen yang sangat membosankan.

Apalagi jika ia harus duduk disamping laki-laki aneh itu.

***

“Oh, hei, Donghae!”

Donghae tersenyum melihat Eunhyuk, salah satu teman sekelasnya datang menghampirinya.

Eunhyuk menoleh kesekeliling taman kampus yang sepi. “Apa yang kau lakukan di tempat sepi begini?” Tanyanya kepada Donghae.

“Tidak ada,” jawab Donghae santai. Eunhyuk ikut duduk di bangku taman itu dan memperhatikan anak baru dikelasnya itu. Tumben sekali ia tak dikelilingi yeoja-yeoja. Sooyoung, Sunny dan Yuri, misalnya. Si Trio pendiri Lee Donghae Fans Club. Apa jangan-jangan…

“Oh, atau kau ingin menghindar dari yeoja-yeoja, ya? Wah, aku pikir kau suka dikelilingi yeoja-yeoja begitu?” Eunhyuk terkekeh.

“Apa maksudmu?” Tanya Donghae bingung.

“Maksudku, kau disini karena ingin menghindari fans-fansmu itu..” Kata Eunhyuk.

“Oh..” Respon Donghae. Tiba-tiba ia teringat oleh Sooyoung, Yuri dan Sunny yang biasanya selalu mencarinya untuk mengajak pergi. Karena tadi ia langsung menghilang karena mengikuti Jessica, mereka tak bisa mengajak Donghae pergi. Mungkin saja saat ini mereka sedang mencarinya.

“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Donghae balik.

“Oh, aku baru saja meminta kembali handycam yang dipinjam adik sepupuku. Lalu aku melihatmu disini” Jelas Eunhyuk. Donghae mengangguk paham.

“Kau mau kemana?” Tanya Donghae spontan saat melihat Eunhyuk berdiri.

“Mau ke ruang club fotografi. Manu mengambil foto yang sudah selesai dicetak. Apa kau mau ikut?” tawar Eunhyuk.

“Baiklah” Donghae ikut berdiri. “Lagipula aku juga sedang tak melakukan apa-apa. Dan kelas selanjutnya masih beberapa jam lagi. Ayo”

***

“Jadi kau anggota klub fotografi?” Tanya Donghae saat masuk kedalam ruangan klub fotografi yang penuh dengan berlembar-lembar foto yang tertempel di dinding.

“Aku? Tentu saja tidak. Aku bukan anggota klub fotografi” Eunhyuk terkekeh. “Mengambil selca saja sering nge-blur, gimana mau masuk klub fotografi coba,” gumamnya.

“Kau bilang apa?” Tanya Donghae sambil menggaruk telinga.

“T-tidak.. lupakan saja” Kata Eunhyuk langsung. Dia mencari-cari sesuatu diatas meja, dan menemukan sebuah amplop besar berwarna cokelat. “Mungkin yang ini,”

Eunhyuk membuka amplop cokelat itu dan mengambil isinya. Berlembar-lembar foto. “Ooh! Ya! Benar! Yang ini!”

“Apa itu?” Tanya Donghae mendekat dan mengambil selembar foto.

“Itu foto 3 bulan lalu, saat aku dan teman-teman sekelas pergi ke pulau nami bersama” Kata Eunhyuk. “Aku meminjam kamera salah satu anak fotografi. Aku selalu mengingatkannya untuk mencetak foto-foto yang kuambil, tapi ia selalu lupa. Dasar anak itu, bilang saja ia tak mau” Kesal Eunhyuk.

“Tentu saja ia tidak mau…” Gumam Donghae sambil terus melihat foto-foto itu. Kebanyakan adalah foto selca Eunhyuk yang blur, atau hanya kelihatan sebagian. Yang lainnya hanya foto-foto teman-teman sekelas, walaupun ada beberapa yang tidak jelas atau terpotong.

“Apa?” Tanya Eunhyuk.

“Tidak. Lupakan saja” Kata Donghae cepat. Eunhyuk mengernyit karena Donghae mengatakan hal yang persis sama dengan yang diucapkannya tadi.

“Ya, kau mengejekku karena hasil fotonya jelek ya? Sial kau” Kata Eunhyuk sambil menjitak pelan kepada Donghae. Donghae terkekeh sambil terus membolak-balik foto-foto itu. Tiba-tiba saja tangan Donghae terhenti, ia membalik lagi foto sebelumnya. Bukannya ini..

“Kenapa?” Tanya Eunhyuk. Ia melihat foto yang sedang dilihat Donghae. “Oh, itu foto anak-anak cewek. Mereka menyuruhku memfoto mereka. Lalu memarahiku karena hasilnya jelek” Eunhyuk menggaruk kepalanya malu.

“Jessica…,” Gumam Donghae pelan, sambil menatap wajah seseorang  yang berdiri dipaling ujung kiri difoto tersebut.

“Oh, ya, dia Jessica. Dia agak beda kan? Dulu dia ramah sekali. Sekarang senyum saja jarang. Padahal dia termasuk dalam gadis populer dikampus, lho” Kata Eunhyuk.

Donghae terus menatap foto Jessica yang berpose dengan tangan membentuk huruf ‘V’ dan tersenyum hangat. Lalu terlintas dipikirannya wajah Jessica yang dingin dan jarang tersenyum.

“Banyak gossip tentang dirinya, tapi aku tak tahu mana yang benar. Sejak 2 bulan lalu ia jadi berubah drastis. Ia selalu menutup diri” Eunhyuk mengangkat bahu.

Donghae memandang Eunhyuk, lalu kembali menatap foto Jessica.

Entah kenapa, ia jadi ingin melihat senyum Jessica yang seperti ini.

Entah kenapa, ia jadi ingin membuat gadis itu tersenyum kembali seperti di foto itu.

Ia tidak pernah melihat Jessica yang dulu.

Karena itu Ia ingin mengembalikan Jessica seperti dulu.

Ia ingin melihat Jessica seperti Eunhyuk katakan. Ramah dan sering tersenyum.

Bagaimanapun caranya,

Ia ingin Jessica kembali.

***

Jessica duduk disamping ranjang, sambil menggengam tangan Taecyeon. Tak banyak yang ia lakukan. Ia hanya diam sambil memandang wajah damai Taecyeon, sesekali merapikan selimut, mengelus perban yang ada dikepalanya, atau tangannya. Wajah damai Taecyeon selalu membuatnya kesal. Seakan tak ada yang terjadi. Seakan ia hanya sedang tertidur karena terlalu capek bermain sepak bola atau baseball kesukaannya…

“Oppa… apa kau tahu?” Gumam Jessica pelan. Ujung jarinya terulur untuk mengelus pelan pipi Taecyeon.

“Semalam aku bermimpi… mimpi buruk..”  Jari Jessica terus mengelus pipi Taecyeon dengan hati-hati, seolah takut akan membuat Taecyeon terluka

“Aku bermimpi melihatmu bangun dan menatapku… tapi kau tak tersenyum padaku….”

“lalu kau berbalik dan pergi meninggalkanku… saat aku ingin mengejarmu, yang kulihat adalah diriku yang berjalan berlawanan arah…”

“…diriku itu berjalan lurus… dengan tatapan kosong tanpa menoleh kepadaku, walau aku sudah berteriak sekuat tenaga.. dan ketika aku berbalik, diriku itu sedang bersamamu… dan menatap tajam kearahku… lalu kalian terus berjalan tanpa menoleh lagi…”

“Lalu menghilang..”

Jessica tersenyum pahit. “Apa kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?” Tanyanya sambil memandang Taecyeon.

“Setelah itu segalanya menjadi gelap. Aku tak bisa melihat apa-apa… yang kudengar, hanya sebuah nada datar yang monoton…” Jessica mengalihkan pandangan kesebuah alat yang berada tepat disampingnya. Alat yang terus menerus bekerja, alat yang selalu menunjukkan kepadanya kalau Taecyeon masih hidup. Jessica kembali memusatkan perhatian ke wajah Taecyeon.

“Tapi setelah itu aku terbangun. Dan bersyukur itu hanya mimpi. Aku sangat bersyukur itu hanya mimpi”

Jessica menarik napas dan menghembuskannya sambil menatap kearah langit-langit kamar, mencoba menghalau air mata yang ingin keluar.

“Itu hanya mimpi kan, oppa?”

“Dulu jika aku mendapat mimpi buruk, kau selalu menenangkanku dan berkata itu hanya mimpi… hanya bunga tidur…”

“Jadi.. bisakah..” Jessica diam sebentar, merasa sulit bernapas.

“Bisakah… kau bangun sekarang dan berkata padaku bahwa itu hanyalah mimpi?” Tanyanya memohon kepada Taecyeon yang matanya tetap saja terpejam.

“Aku takut..” gumam Jessica. “Aku takut jika saja mimpi itu menjadi kenyataan dan kau pergi meninggalkanku..”

“Bisakah kau bangun dan meyakinkanku hal itu tak akan terjadi? Bahwa… bahwa kau tak akan meninggalkanku?”

Setetes air matanya tumpah, Jessica buru-buru menghapusnya. Dua tetes, tiga tetes, empat tetes…

“Kau tidak akan meninggalkanku, kan..?”

Air mata Jessica terus mengalir, tanpa bisa dihentikannya. Walaupun Jessica sudah mencoba menghentikannya, air matanya itu tetap mengalir.

“Aku mohon… k-katakan padaku itu tidak benar… katakan padaku itu hanya.. hanyalah mimpi…”

Suaranya tersendat, ia susah berbicara karena air mata yang yang tak bisa terkontrol ini.

“Karena itu… bangunlah…” Jessica bisa merasakan tangannya yang bergetar. Ia merasa menggigil.

“Bangunlah oppa..”

Jessica meraih kalung berbandul cincin yang selalu dikenakannya. Sebuah cincin yang ditemukan polisi digenggam Taecyeon erat-erat, saat kecelakaan terjadi.

Sebuah cincin yang seharusnya menjadi hadiah untuknya,

Sebuah cincin yang seharusnya akan dipakai Taecyeon untuk melamar Jessica.

Itulah yang membuat Taecyeon terlambat datang.

Itulah kenapa Taecyeon menyuruhnya menunggu dulu.

Karena ia ingin mengambil cincin itu, cincin yang sudah dipesan khusus untuknya.

Jessica menggenggam tangan Taecyeon dengan kedua tangannya yang bergetar.

“Kumohon… bangunlah…”

“Aku takut, oppa..” Jessica semakir tak bisa mengontrol segalanya. Air matanya terus mengalir, tangannya tak bisa berhenti bergetar, dan ia merasa sangat kedinginan.

“Apa yang harus kulakukan…  kalau nanti aku bermimpi seperti itu lagi..?”

Jessica menunduk, menempelkan dahinya ke punggung tangan Taecyeon dan terus menangis.

“Bangunlah… oppa..”

Jessica mengangkat wajah, memandang wajah Taecyeon lama.

“Aku ingin kau kembali…” bisik Jessica lemah.

Tanpa sengaja Jessica melihat sesuatu yang mengalir dari mata Taecyeon dan jatuh kebantal.

Mata Jessica melebar.

Air matanya.

Taecyeon bisa mendengarnya.

Taecyeon tahu dia ada disini.

Jessica yakin Taecyeon bisa mendengarnya, karena dia menangis.

Taecyeon menangis.

To Be Continued

*****

Gimana? gimana?

mudah-mudahan ceritanya gak aneh TT__TT

sumpah gak pede banget deh sebenernya buat ngpost ini ff, haha

jangan lupa baca dan komennya ya ^^

kritik dan saran diterima kok XD

*btw, aku bakal berusaha buat update ff ini seminggu sekali, ya pas akhir2 minggu lah hehe :)

annyeong ^^

57 pemikiran pada “A Thousand Years (Part 3)

  1. yeahh author publish !!
    kasian my oppa(donghae)..
    tapi taecsicca juga kerenn..
    ditunggu part selanjutnya ajh thor !!

  2. Dilanjutkan ya chingu.
    Penasaran banget ni.
    Donghaenya pasti boleh buat sica unnie ya tersenyum ceria kembali ya.
    Donghae dapatkan cintanya sica unnie.
    Tapi bagaimana dengan taecyeon?
    Kesian banget taecyeonnya ya.

  3. oppa ! Oppa ! Fighting ! I will always support you and author in the blog.
    Baru bisa komen. Kpan lanjutnya ? Sering mampir ke blog ini, tpi blum ada ff yang baru lagi. Kpan lanjut love and friend nya ? Nunggu udh hmpir berbulan2*eleh lebay.

  4. Maaf readers, sepertinya aku belom bisa lanjutin ini FF TT___TT
    laptop aku rusak (lagi), gak tau deh file ff ini dalam laptop masih ada apa enggak…
    maaf yaaa *deep bow* T______T
    kalo udah selesai diperbaiki janji aku langsung update ini ff >_<
    Sekali lagi mianhae TT____TT

  5. Aaaa seruuu,,
    Tp kasian jg ya kalo taecyeon nya meninggal..
    Tp hae jg ntar nya kasian..
    Next thorrr O(≧∇≦)O

  6. halo readers!
    huaaa pengen nangis tiap liat komentar kalian, maaf maaf maaf :(((
    laptop aku udah diperbaiki sekitar bulan mei lalu, tapi semua file dalam laptop kehapus semua TT___TT termasuk part 4nya… terus aku coba buat lagi, masih separoh, tp belum kulanjuti karena sibuk ulangan semester…
    dan ketika udah selesai ulangan, pas mau lanjutin…. LAPTOPNYA RUSAK LAGI.
    gatau, aneh banget, gak mau ke klik lah, pas mau nulis keyboardnya agak rusak gitu.. aku gak ngerti T^T
    sampe sekarang blm diperbaiki huhuhu T^T
    maaf banget buat kalian yang masih nunggu ff ini, maaf banget T^T
    semoga laptopku cepet diperbaiki, dan file part 4nya gak ilang lagi T__T
    maaf yaa :( aku tetap bakal lanjutin ini ff, karena kalo gak dilanjutin aku nya yang gak puas(?) *apasih*
    sekali lagi aku minta maaf :( doakan yaa semoga laptopku cepat sembuh huhu(?)
    mohon ditunggu part 4nya yaa .. mianhae *deep bow*

  7. Smpe skarang msih blom d publis ya ? Laptop y g rusak lg kan? Hwa karatan nunggu y, tp karna ni crita y bkin pnasaran bnget siap deh nunggu y , , ,
    author lanjut kan smangat mu !
    Genbate ! Waiting ! Faithing ! Semangat !

    ^_^keepsmile

  8. author… cepetan yq lanjutinnya! bener2 udh penasaran bgt loh :'( ntr apa Donghae oppa brhsil mengembalikan sica unnie yg dulu ?? trus ntr taecyeon gmn?? apa ntr dia tiba2 bangun? trus hubunganny dg donghae oppa gmn?? Ppali udate authornim T^T

  9. Aaaa seru bangett. . Msa taecyeon bangun? Jangan hahaaha nnti donghae gmna :(
    Part 4 nya blm ada ya thor? ? Dilanjut doong penasaran bgt ama crtanya. . Pengen tau nnnti nya gmna sama haesica :D

    Ditunggu lanjutannya thor .. fighting ^^

We really appreciate your comment ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s