A Thousand Years (Part 2)

Title : A Thousand Years (Part 2)

Cast : -Jessica Jung (SNSD)

-Lee Donghae (Super Junior)

-Taecyeon (2PM)

-etc

***

HELLO READERS! *datang bareng jinki* *dilemparin sendal*

MAAF YA BARU BISA NGEPOST SEKARANG. Sibuk banget sekolah, jadi gak sempat buat lanjutin ini ff TT_______TT /author gagal/

ok, langsung aja, cekidot :)

***

“JANGAN NGOMONG YANG ANEH-ANEH KALAU TIDAK TAU APA-APA TENTANG JESSICA!!”

“Siapa dia?” Tanya Donghae kepada Sooyoung cs yang sudah bersembunyi dibalik Donghae, ketakutan dengan seorang gadis yang tadi berteriak memarahi mereka.

“Cih, memangnya kenapa? Bukannya memang itu yang terjadi? Iya kan?” Tanya Sohee berani. Wajah gadis itu memerah. Ia mengepalkan tangannya.

“Wah, wah, Kim Hyoyeon, kenapa dengan tanganmu itu? Kau mau memukulku?” tantang Sohee dengan wajah mengejek. Gadis bernama Hyoyeon itu langsung membuang muka, memandangi Donghae dan sooyoung cs.

“Kalian… sampai kudengar kalian menjelek-jelekkan Jessica lagi…. Awas kalian…”

Ancaman Hyoyeon membuat Sooyoung cs menjadi semakin ketakutan. Donghae masih kebingungan dengan apa yang barusan terjadi.

Hyoyeon menatap Donghae lama, lalu memutuskan untuk pergi dari situ. Setelah Hyoyeon pergi, Sooyoung cs langsung bernapas lega. Donghae menatap gadis-gadis itu, membuat mereka salah tingkah.

“Kenapa sih, dengan kalian ini?” Tanya Donghae tak habis pikir. Sooyoung mewakili semua teman-temannya menggaruk tenguk.

“Y-yah… habis Hyoyeon itu menakutkan sih… K-kami tidak mau berurusan dengannya…”

“Dasar kampung” Setelah berkata begitu, Sohee memilih segera pergi, tak menghiraukan tatapan-tatapan buas Sooyoung dkk.

“Siapa sebenarnya Hyoyeon itu?” Tanya Donghae.

“Dia sahabat Jessica. Mereka tinggal bersama di sebuah apartemen” kata Yuri sambil mengangkat bahu.

“Lho, kenapa kita jadi membahas Jessica dari tadi sih, buang waktu saja, ayo ke kantin!” seru Sunny. Donghae yang tak sempat menolak pun pasrah diseret oleh gadis-gadis itu menuju kantin.

***

“Sica, kau dimana?” Tanya Kim Hyoyeon melalui ponsel.

“Wae?” Tanya Jessica balik. Hyoyeon menghela napas.

“Kau belum makan sejak tadi pagi, dan sekarang juga belum makan siang? Tadi aku ke kelasmu, tapi kau tidak ada.”

“Aku mau ke rumah sakit”

“Tapi kau belum makan”

“Nanti aku akan makan”

“kapan?”

“….”

“Sica, berhentilah bersikap bodoh seperti itu. Kau harus makan. Lihat dirimu. Kau itu sudah terlalu kurus, sica”

“Aku diet”

“DIET APAAN?!” Hyoyeon mulai emosi. “Kau.. aku mohon, jangan bertingkah seperti itu. Kau pikir kalau kau tak makan, dan hanya menemani Taecyeon sepanjang waktu akan membuat semuanya kembali seperti semula, hah?! Kau mau kau juga jadi ikut-ikutan sakit?!”

Hyoyeon mendengar hembusan napas Jessica.

“Pokoknya, kau harus makan. Aku tak mau tau. Sekarang pergilah ke kafe dekat kampus kita. Aku tunggu kau disana”

“Kau terdengar seperti ibuku”

“Seseorang memang harus jadi ibumu pada saat genting seperti ini”

***

“Oh astaga, makanan disini benar-benar enak. Kenapa kita tidak pernah kesini padahal kita selalu melewati kafe ini?” Gumam Hyoyeon sambil menyendok makanan ke mulut. Jessica yang ada didepannya tak menanggapi kata-katanya, hanya menyaduk-ngaduk makanannya tanpa semangat. Hyoyeon langsung meletakkan sendoknya dan menatap lurus sahabatnya itu.

“Jung Jessica, bisakah kau tidak memainkan makananmu seperti itu dan langsung memakannya saja?” tanyanya. “Kau ini selalu saja—” Jessica mengangkat telapak tangan kirinya sedikit, dan mulai menyendokkan makanan ke mulutnya. Hyoyeon menghela napas.

“Kau benar-benar mau membuatku gila dengan sikapmu itu, apa kau tau?”

Hyoyeon menoleh kearah jendela bening kafe disamping kirinya itu, membuatnya bisa melihat jalanan yang lumayan ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, dan juga daun-daun pepohonan yang mulai berguguran. Mata Hyoyeon seorang laki-laki yang dikelilingi gadis-gadis sedang berjalan masuk ke pintu kafe ini. Bukannya dia namja yang tadi?

“Huh, Kantin terlalu ramai, akhirnya harus makan disini deh” kesal Sunny.

“Sudahlah, makan siang disini juga enak kok, aku pernah kesini dengan Yuri dan yang lainnya” kata Sooyoung sambil berkhayal makanan-makanan kesukaannya.

“Awas jangan sampe ngeces” kata Yuri membuat yang lainnya tertawa.

Donghae hanya tersenyum tipis melihat kehebohan gadis-gadis itu. Ia memang sudah pasrah saat gadis-gadis ini menyeretnya pergi. Yah, tak apalah.

“Oppa, ayo duduk disini!” Ajak mereka.

“Oppa, kau mau pesan apa?” Tanya Yuri, Donghae membaca buku menu yang diberikan Yuri, tapi ia merasa tidak lapar sekarang. “Hmm.. terserah kalian saja.” Kata Donghae dengan tersenyum manis, lalu merogoh saku jaketnya, karena ponselnya berbunyi. Sms dari kakaknya.

“Kalau begitu, biar aku yang memesankannya untukmu, oppa!”

“Hei, jangan begitu! Aku saja yang memesankannya!”

“aku juga mau memesankan makanan untuk Donghae oppa!”

Donghae merasa risih dengan suasana seperti ini. Dikerumuni oleh gadis-gadis membuatnya kikuk. Apalagi ia satu-satunya laki-laki disini. Donghae mengela napas dan merebut buku menu itu. Ia membolak-baliknya sebentar dan langsung menunjuk sebuah gambar makanan walau ia tak tau apa itu. “nah, ini, pesankan saja aku yang ini.” Katanya agar membuat mereka tidak ribut.

Setelah keadaan mulai reda (?) Donghae kembali memusatkan perhatian kepada sms kakaknya yang belum ia baca tadi.

“Astaga! Kenapa dia ada disini?!” Seruan Sooyoung membuat Donghae terkaget.

“O…Oppa… mereka melihat kita…..” Ujar Sunny yang berada dikiri Donghae, sambil menarik-narik lengan Donghae. Donghae melihat kearah lirik mereka dan melihat gadis bernama Kim Hyoyeon—yang tadi memarahi Sooyoung cs—sedang menatap mereka secara terang-terangan. Didepan Kim Hyoyeon ada Jessica yang tampak memaikan makanannya.

“Aaaa.. eothokhae?” gumam Sooyoung.

“Kalian ini kenapa?” Tanya Donghae bingung.

“Kami takut dengan Hyoyeon. Lihat! Lihat! Dia menatap kita begitu! Menakutkan sekali sih” Gerutu Yuri.

“Kalian ini kelihatan berani padahal ternyata penakut” gumam Donghae pelan.

“Apa, oppa?” Tanya Sunny.

“Ah, aniyo. Amugeotdo anieyo”

“Hei, Hyoyeon masih menatap kita” Kata Sooyoung.

“Aduh anak itu kenapa sih, menatap kita terus, bikin risih saja” Gerutu Yuri lagi

“Sudahlah, anggap saja mereka tidak menatapmu. Lagipula, mereka tak akan memakan kalian juga, kan?” Kata Donghae sambil menggeleng-gelengkan kepala, takjub dengan sikap gadis-gadis ini. Tiba-tiba mata Donghae dan Kim Hyoyeon bertemu, dan Hyoyeon pun langsung memalingkan wajah.

Donghae tertegun, merasa aneh dengan tatapan Hyoyeon.

Hyoyeon sendiri langsung menatap gadis blonde didepannya ini dengan penuh selidik. “Sica, ada anak baru dikelasmu?”

Jessica mengangkat kepala mendengar kata ‘anak baru’ dan menatap Hyoyeon.  Hyoyeon mengerling  kearah Donghae dan Sooyoung cs dan Jessica pun mengikuti arah mata Hyoyeon itu. Dahi Jessica mengernyit. “Memangnya kenapa?” tanyanya.

“Jadi, dia benar-benar anak baru? Apakah ia baru masuk hari ini? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.” Kata Hyoyeon. Jessica mengangkat bahu cuek. “aku tidak tau” jawabnya tidak jelas.

Hyoyeon mengernyit. “kau ini bagaimana sih? Masa tidak tau ada anak baru atau tidak dikelasmu? Tadi kau masuk kelas, kan?” Jessica mengangguk menjawab pertanyaan Hyoyeon.

“Lalu kenapa kau tidak tau?” Tanya Hyoyeon lagi. “Jung Jessica, apa yang kau lakukan selama didalam kelas? Jangan bilang kau hanya melamun tidak jelas, hah?”

Jessica hanya menghela napas dan meraih sendoknya. Ia memasukkan makanan sampai mulutnya terasa penuh. Sekarang ia sedang sibuk mengunyah, sambil menatap Hyoyeon dengan wajah polosnya. Jadi ia tak merasa perlu untuk menjawab pertanyaan Hyoyeon. Hyoyeon tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya ini.

“Jung Jessica, kau membuatku benar-benar gila sekarang”

***

“Bagaimana? Sudah mulai terbiasa tinggal disana?”

Donghae membanting tubuhnya ke sofa yang menghadap ke jendela kaca. Tangan kirinya menempelkan ponsel ke telinga, sedangkan tangan kanannya membuka satu kancing atas kemejanya, karena ia merasa gerah.

“Hyung, kalau kau berkata seperti itu, aku jadi merasa sedang tinggal sendirian di kutub utara atau apa” Kata Donghae. Ia mendengar Lee Donghwa, kakaknya, terkekeh pelan.

“Sepertinya memang begitu. Sudah menemukan sesuatu yang menarik?”

Pertanyaan kakaknya itu membuat Donghae tiba-tiba teringat kepada Jessica, gadis dingin yang duduk disamping kirinya itu. Tanpa sadar Donghae tersenyum.

“Wah, kalau kau tidak membantah seperti itu berarti jawabannya ya.. apa dia seorang gadis?”

Donghae mengerjap. Kenapa kakaknya bisa tau?

“Aku yakin 100% tebakanku benar. Wah, hebat sekali kau, Lee Donghae, baru seminggu lebih tinggal di Seoul sudah tertarik pada wanita. Padahal kau paling benci hal-hal seperti itu” Goda kakaknya.

“Hyung, dimana kau sekarang? Apa masih di Ilsan?” Tanya Donghae, langsung mengalihkan pembicaraan. Ia paling tidak suka di goda kakaknya.

“Cih, kenapa langsung mengalihkan pembicaraan? Yah, aku masih ada di Ilsan, mungkin seminggu lagi baru pulang. Oh ya, aku sudah bilang pada ibu untuk memberimu kunci apartemenku. Tinggalah disana. Lagipula lebih dekat dari kampusmu, kan”

“Mm. aku sedang di apartemenmu sekarang.” Kata Donghae. Perut Donghae tiba-tiba berbunyi, membuatnya langsung bertanya pada kakaknya.

“Hyung, kau ada bahan makanan disini? Aku lapar” Tanya Donghae sambil beranjak ke dapur.

“Kau gila? Yang ada di apartemenku itu hanya kaleng minuman dan mie instan. Jangan harap menemukan bahan makanan seperti maksudmu itu… Aku tidak hobi memasak sepertimu, Tn. Lee” Donghae membuka lemari dan kulkas yang ada didapur, tapi benar kata kakaknya, ia hanya menemukan beberapa kaleng minuman soda, satu botol jus apel dan 2 bungkus mie instan. Donghae menghela napas.

“Sepertinya aku harus belanja keperluan untuk apartemenmu” kata Donghae sambil menatap isi kulkas. Ia mengedarkan pandangan ke apartemen kakaknya itu, yang memang tidak terisi banyak barang karena jarang digunakan (?) kakaknya.

“Sekarang apartemen itu punyamu juga. Yah, selamat berbelanja.”

***

“Sebenarnya apa yang ingin kau beli?”

Jessica mendorong troli yang mulai terisi oleh belanjaan, satu tangannya menempelkan ponsel ke telinga. Suara Hyoyeon terdengar dari seberang.

“Sudahlah, tak usah cerewet. Ikut kata-kataku saja. Sekarang, pergi ke bagian sayuran.” Perintah Hyoyeon. Jessica menghela napas.

“Aku sudah di bagian sayuran. Sayuran apa yang ingin kau beli?” Tanya Jessica sambil melihat-lihat sayuran-sayuran yang ada. Jika saja tidak ada papan-papan nama disetiap sayuran, Jessica pasti tidak akan bisa membedakan sayuran-sayuran tersebut. Yah, Jessica memang tidak pandai dalam urusan dapur atau semacamnya.

“Ambil sawi. Aku jadi  ingin makan kimchi. Lalu selada untuk sandwich besok pagi. Lalu…” Jessica menemukan tumpukan sayuran bertuliskan ‘sawi’ dan mengambil satu. “Membuat kimchi? Memangnya bisa hari ini langsung jadi..” gumamnya tidak jelas.

“Halo? Sica? Apa yang kau katakan? Aku tidak terlalu bisa mendengarmu. Ribut sekali” Kata Hyoyeon.

Jessica menggeleng. “A-amugeotdo aniyo”

“Sudah belum? Kok lama sekali? Hei, jangan pilih asal-asalan ya! Cari sayur yang masih segar!”

Jessica mendesis. Dasar banyak maunya. Apa bedanya sih sayur segar dan yang tidak segar?  Toh sama-sama sayur.  Lagipula ia memang tak bisa membedakannya. Oh iya, jika sayur-sayur ini dicuci dengar air lagi, pasti akan kelihatan segar, bukan?

“Jung Jessica? Kau mendengarku? Sayurnya sudah dapat, kan?”

Jessica tersadar dari lamunannya. “Ne”

“Kalau begitu cepat ke bagian bumbu! Jalan yang cepat, ya! Katamu baterai ponselmu sudah mau habis, kan!” Seru Hyoyeon.

“Siapa suruh kau menyuruhku berbelanja. Kenapa tidak kau saja?” gerutu Jessica sambil mendorong troli dan mencari-cari rak bumbu. Kenapa supermarket ini luas sekali, sih?

“Hehehe, mian… lagipula kan kau juga baru pulang dari Rumah Sakit, kan? Jadi biar sekalian. Tadi saat latihan, kakiku terkilir sedikit, hehe”

“..Tapi kau tidak apa-apa, kan?” Tanya Jessica. Hyoyeon memang suka sekali berlatih menari. Jika sudah berlatih, ia bisa lupa waktu.

“Neee gwaenchanaaaa.. sudah sampai, belum?”

“Belum.” Jessica menghentikan trolinya. “aku tidak tau dimana letaknya. Super market ini terlalu luas.”

“Ck, kau ini… dibagian mana kau sekarang?”

Hyoyeon pun menunjukkan letak rak-rak bumbu kepada Jessica. Ajaib sekali, Hyoyeon tahu dan hafal seluk-beluk (?) super market ini, bahkan letak-letaknya. Padahalkan bisa saja diubah-ubah letak rak-rak itu.

“Aku sudah di bagian bumbu” kata Jessica.

“Cari bumbu yang namanya…. Aduh, sebentar, aku lupa apa namanya.” Terdengar suara kaki Hyoyeon yang berlari terburu-buru. “Dimana aku menaruhnya? Sepertinya disini..” Terdengar lagi suara lemari didapur yang dibuka-tutup dengan keras.

“H-hei pelan-pelan saja! Kakimu…”

“INI DIAAAAAA!!!! Nah, namanya…..”

Tanpa sengaja, Jessica melihat rak berisi spaghetti dan mie-mie intan yang tepat berada didepan rak bumbu.  Jessica melangkah menuju rak itu dan mengambil sebungkus. Ia menatap lama bungkusan spaghetti itu, lalu memasukkannya kedalam troli.

“Jessica? Jung Jessica?”

“Ah, ne. bumbu apa yang tadi kau bilang?”

***

“Makan apa ya malam ini…”

Donghae memberhentikan troli belanjaannya didepan rak penuh bungkusan mie intan dan mengambil beberapa bungkus. Dia memang suka memasak, tapi ada kalanya ia terlalu malas—atau terlalu sibuk— untuk sekedar memasak, jadi mie instan juga harus selalu ada. Donghae melirik bungkusan spaghetti, lalu memasukkannya kedalam troli. Yah, sepertinya ia akan makan spaghetti malam ini.

Donghae menoleh ke belakang, melihat rak penuh bumbu. “Oh iya, bumbu”

Ia mendorong trolinya dan berhenti didepan rak tersebut, lalu mencari-cari bumbu yang mau dibelinya.

Baru saja Donghae menemukan bumbu yang dicari—dan hendak mengambilnya, sebuah tangan sudah duluan menyambar botol tersebut. Donghae menoleh, menatap sang pemilik tangan itu.

“Bumbu apa? Apa? Aku tak bisa mendengarmu… Apa yang ini? Namanya na— eh? Bukan? Yang mana sih?”

Mata Donghae melebar mengetahui sang pemilik tangan tersebut, lalu tanpa sadar tersenyum.

“Warna apa sih, bumbu itu? Sudah kucari, tapi tak kutemukan. Ya! Aku benar-benar mencarinya, kok. Ck, kau ini—“

Senyum Donghae bertambah lebar mendengar ocehan sang pemilik tangan tadi. Satu tangannya memegang ponsel yang didekatkan ketelinga, yang satunya memegang botol tadi sambil terus mengoceh. Entah apa yang dicarinya. Tatapan Donghae beralih ke arah troli yang cukup terisi penuh disamping gadis itu, lalu kembali kea rah gadis itu. Ia bahkan tak menyadari ada orang disampingnya, dan tak sadar orang itu sudah memperhatikannya sejak tadi.

Ya, Gadis itu.

Gadis blonde bernama Jessica.

Kita ketemu lagi… Gumam Donghae, yang tak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya. Entah kenapa.

Sedangkan gadis itu—Jessica—masih sibuk berdebat dengan Hyoyeon lewat telepon, hanya karena sebotol bumbu yang entah kenapa sudah dicarinya tapi tak ketemu. Tapi Hyoyeon malah tetap bersikeras bahwa bumbu itu pasti ada dan ia harus menemukannya. Biasanya, Hyoyeon sering mengatainya keras  kepala. Nah, sebenarnya siapa yang keras kepala kau sudah begini? Dasar.

Jessica mendongak dan menemukan botol bumbu itu, yang berada di rak paling atas.

“Oh, aku menemukannya.” Kata Jessica kepada Hyoyeon. “Warnanya merah, bukan? Yeah, agak berwarna oranye. Terserahlah. Sudah ya.” Jessica mematikan sambungan. Ia sudah menemukan botol bumbu itu. Tinggal mengambilnya, membawa barang-barang ini ke kasir dan membayarnya, lalu pulang.

Jessica berusaha meraih botol itu, tapi agak sulit. “Ck, kenapa tinggi sekali sih..” gerutunya pelan.

Sebenarnya, Jessica bisa saja mengambil botol itu. Tapi karena kelelahan dan agak pusing, ia jadi tidak fokus.

“Oh, biar ku bantu”

Jessica tak tahu siapa yang tadi berkata seperti itu, tapi yang ia tahu selanjutnya, sebuah lengan berbungkus jaket berwarna cokelat tua terjulur keatas dan meraih botol bumbu itu, lalu memberikannya kepada Jessica.

“Gomap—“ Kata-kata Jessica terhenti ketika melihat siapa yang tadi menolongnya. Bukannya laki-laki ini anak baru di kelasnya? Lagi-lagi ia bertemu dengannya.

“Gomapseumnida” Kata Jessica akhirnya.

“Kita bertemu lagi,” Kata laki-laki itu, menyuarakan apa yang tadi digumamkan Jessica dalam hati. Jessica mengerjap pelan, lalu mengangguk kaku.

“Kau tidak lupa aku, kan? Aku Lee Donghae. Anak baru di kelasmu dan juga duduk disamping kananmu.” Kata laki-laki itu dengan senyum lebarnya. Jessica tak tahu kenapa orang ini selalu bisa tersenyum dengan mudahnya.

“Ah, ne…” gumam Jessica tak jelas. “Eng.. aku duluan dulu. Sampai jumpa” Pamit Jessica, lalu segera mendorong trolinya cepat-cepat menuju kasir. Kenapa ia jadi merasa canggung? Jessica benar-benar tak suka berlama-lama bersama orang yang membuatnya canggung. Tapi kenapa laki-laki itu membuatnya merasa canggung?

Jessica mendengar suara troli dan juga langkah kaki yang bukan miliknya terdengar dibelakangnya, lalu ia berbalik. Ia menatap bingung Lee Donghae yang ada dibelakangnya,  yang hampir saja menabrak tubuhnya dengan troli karena langkah Jessica yang tiba-tiba terhenti.

“kenapa kau berhenti?” Tanya Donghae

“kenapa kau mengikutiku?” Tanya Jessica balik.

Donghae mendengus. “Mengikutimu? Aku juga mau ke kasir.” Kata Donghae geli.

Jessica menghembuskan napasnya kesal. Ia lalu berbalik lagi dan kembali mendorong troli, namun berhenti lagi ketika melihat antrian yang sangat panjang di kasir-kasir super market tersebut. Astaga, kenapa banyak sekali orang yang belanja hari ini?

“Kenapa berhenti lagi—“ Tanya Donghae yang hampir—untuk kedua kalinya—menabrak Jessica dengan trolinya. Donghae memandang kesekeliling. Oh, antrian panjang. Kenapa disaat banyak orang yang belanja, kasir yang dibuka sedikit sekali? Tanpa sengaja Donghae melihat seorang petugas kasir yang baru saja membuka kasirnya (?). Ia langsung cepat-cepat mendorong troli dan berkata kepada gadis didepannya itu. “ada kasir yang baru dibuka, ayo cepat!”

Jessica yang kaget buru-buru mengekori Donghae menuju kasir tersebut. Syukurlah, Donghae cepat melihatnya.

Ladies first,” Kata Donghae sambil mempersilahkan Jessica maju duluan untuk membayar ke kasir. Jessica menganggukkan kepalanya pelan sambil berkata ‘terima kasih’. Yang Jessica butuhkan sekarang memang cepat-cepat membayar semua ini, lalu pulang.

Tak lama kemudian, Jessica sudah berada diluar super market sambil menenteng tiga kantung besar belanjaannya. Ia mengumpat pelan. Ia lupa kalau ia tak bawa kendaraan—jadi dia harus pulang naik kereta sambil menenteng kantung belanjaannya yang berat itu. Ia benar-benar lupa akan hal ini. Ia juga yakin Hyoyeon lupa. Nah, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Jessica meletakkan belanjaannya di tanah dan merogoh tas mencari ponsel. “Ck, Kenapa baterainya habis?” Keluh Jessica yang terus memencet-mencet tombol iPhonenya itu walau tahu ponselnya itu tak akan menyala.

Jessica memandang sekeliling. Sebenarnya ia bisa naik taksi, tapi tadi pagi ia lupa bawa dompet dan uang yang ada di tasnya sudah dipakai untuk belanja tadi. Benar-benar sial.

Tiba-tiba Jessica mendengar suara motor yang berhenti ditepi jalan tepat didepannya. Ia melihat Lee Donghae yang melepas helm dan turun dari motor.

“Hai, kau mau pulang?” Tanya Donghae. Jessica hanya mengangguk.

“Wah, sepertinya kau butuh tumpangan,” Kata Donghae sambil melirik tiga kantung belanjaan Jessica yang diletakkannya di tanah.

Apa katanya? Butuh tumpangan? Jessica mengerjap. “Tidak. Tidak usah. Terima kasih. Aku bisa naik kereta—“

“Naik kereta dengan bawaan sebanyak itu?” potong Donghae. Mulut Jessica terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi menutup lagi karena bingung apa yang mau ia katakan.

“Aku bisa mengantarmu” tawar Donghae. Ujung bibir laki-laki itu terangkat. “Yah, itu juga kalau kau mau,”

“Tidak usah.” Jawab Jessica tegas. “Nanti merepotkan. Aku bisa naik kereta”

“Tidak merepotkan, kok” Kata  Donghae.  “Aku bisa mengantarmu dengan motorku”

Jessica melihat motor besar milik Donghae. “Terima kasih, tapi.. aku tak bisa naik motor.”

“Tidak bisa naik motor? Aku kan tidak menyuruhmu mengendarainya. Kenapa tidak bisa?” Tanya Donghae aneh.

“Itu…” Jessica menggigit bibirnya. Ia takut, takut naik motor. Motor besar Donghae hampir sama seperti milik Taecyeon. Ia terlalu takut…..

“Jessica? Kau kenapa?” Tanya Donghae lagi.

“Aku… tidak biasa naik motor” jawab Jessica akhirnya.

“Tidak biasa?” Donghae memiringkan kepalanya. “Tidak biasa… atau takut?” goda Donghae. “Tenang saja, aku tidak akan ngebut, kok..”

Jessica menghela napasnya. Ia sedang tidak ingin berdebat atau apapun itu. “Kau tidak bisa mengantarku dengan barang sebanyak ini. Lagipula…” Jessica mengedikkan dagunya kearah dua kantong belanjaan Donghae yang ada diatas motor.

Donghae yang mengerti maksud Jessica langsung menepuk dahi. “Oh, astaga, aku lupa kalau punya belanjaan juga. Ck, tahu begini seharusnya bawa mobil…” gumam Donghae, sedikit menyesal.

Jessica menghela napasnya lagi. Kali ini karena terlalu lega. Saat ia baru mau mengangkat bawaannya dan bermaksud pergi, tiba-tiba Donghae menarik lengannya.

“Tunggu, Tunggu disini dulu” Kata Donghae.

Entah apa yang membuat Jessica mematuhi perkataan Donghae. Ia meletakkan kembali bawaannya dan memandang Donghae yang berlari-lari kecil menuju sebuah mobil. Ia melihat Donghae berbicara sebentar dengan pemilik mobil, lalu balik menuju motornya untuk mengambil dua kantung belanjaannya dan memasukkannya kedalam mobil tersebut. Apa jangan-jangan…

“Apa.. yang kau lakukan?” Tanya Jessica kepada Donghae. “Kau tidak.. tidak meminjam mobil itu atau…”

“Apa yang kau pikirkan?” Donghae terkekeh. Mereka berdua memandang mobil itu yang segera pergi.

Jessica memandang mobil yang sudah semakin menjauh dan Donghae bergantian. “belanjaanmu…” ujar Jessica.

“Yang tadi itu tetanggaku. Dia tinggal tepat disamping apartemenku. Aku memintanya untuk membawakan belanjaanku. Apartemenku tidak terlalu jauh kok.”

“Wae..?” Tanya Jessica semakin bingung.

“Tentu saja karena aku mau mengantarmu pulang” Donghae mengangkat semua kantong belanjaan Jessica dan memberikan Jessica satu kantong belanjaan yang paling ringan.

Jessica yang masih kebingungan masih berdiri ditempatnya. “Hei, maksudmu… kau mau ikut aku naik kereta..?” Tanya Jessica meminta penjelasan.

“Yap”

“Lalu bagaimana motormu?”

“Tidak apa-apa. Diparkir saja disitu. Aku bawa kuncinya, kok.” Kata Donghae.

“Kau… tidak perlu repot-repot.” Kata Jessica dengan wajah datar sambil menarik kantong belanjaannya dari tangan Donghae.

“Sudah kubilang kau tidak merepotkanku” Donghae merebut kembali kantong itu. “Aku sedang ingin jalan-jalan. Jadi sekalian mengantarmu,” Donghae tersenyum. “Nah.. kajja!”

Jessica menatap lama Donghae sudah berjalan duluan, dengan kedua tangan yang memegang belanjaan Jessica.  Ia tidak suka dengan orang yang terlalu baik padanya, dan orang yang suka mencampuri urusannya… Tapi kenapa ia malah membiarkan orang ini membantunya dan membiarkan dirinya menerima bantuannya?

Entahlah. Ia sedang tak ingin memikirkan itu sekarang. Tubuhnya sudah sangat lelah, kakinya sudah sangat sakit, dan ia kelaparan. Belum lagi angin musim gugur yang membuatnya harus merapatkan jaketnya.

Akan ia pikirkan nanti.

Yang terpenting sekarang adalah pulang dan tidur.

“Jessica, cepat sedikit” ujar Donghae dengan nada yang dibuat-buat, lalu dia terkekeh sendiri.

Jessica memasang wajah malasnya dan mengambil langkah panjang-panjang, melewati Donghae yang tadi berhenti untuk menunggunya.

Donghae memandang gadis blonde yang sudah berjalan cukup jauh—gadis itu benar-benar gadis yang lincah—lalu berlari-lari kecil menyusulnya.

“Hei, Jessica, tunggu aku, bawaan ini sangat berat, tahu” seru Donghae.

“siapa suruh membantu” gumam Jessica pelan sambil tetap berjalan cepat-cepat.

Donghae terkekeh lagi—entah kenapa ia merasa senang—lalu menyusul Jessica dengan cepat. Sehingga mereka sekarang berjalan berdampingan.

Donghae tak bisa menghentikan senyumannya.

Ini aneh, pikirnya. Ia merasa senang, entah karena apa.

Tadi ia mengeluh lapar, tapi sekarang rasa lapar itu seakan menguap.

Astaga, ia benar-benar tak bisa menghentikan senyumannya ini.

Ia menoleh kesamping, melirik gadis blonde yang hanya berjalan dalam diam sambil memasang wajah datar.

Ini benar-benar gawat.

Sepertinya… dia…

To Be Continued.

Otte readers? ><

semoga gak terlalu aneh yaa ><

maaf kalau jelek TT

jangan lupa baca+comment nya yaa ^^

gomapseumnidaaaa *bow*

27 pemikiran pada “A Thousand Years (Part 2)

  1. sica Eonn kenapa ?? Sica eonn kenapa ?? *Panik*penasaran sama kelanjutannyaa.. Cpet di post ya Authorr.. Kalo bisa post minggu depan ya authorr..
    Sumpah penasaran bangett deh >.<
    #Next chap cpet di post,,Hwaiting thor ;)

  2. Seperti nya.. dia.. jatuh cinta.. ya kan??
    Donghae oppa udh mulai suka ama jessica :) horaaayy!!!
    Trus nnti kalo taecyeon smbuh gmna* tidaaakk :(
    Jgn smbuh deh haha *jahat

We really appreciate your comment ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s