Toko Antik KangTa [haesica]

Halooo…

Author baru datang membawa oneshoot haesica yang belum sempurna ini. Maaf sekali ya jika karya ini begitu aneh dan kurang dimana-mana. Mohon di berikan komentarnya untuk author baru yang masih dalam tahap penulisan ini^^.

.

Selamat membaca^^

.

Toko barang antic membantu Seo Joo Hyun menemukan cintanya. Akankah Jessica Jung mengalami hal yang sama? Pegawai baru toko antic KangTa ini pun ikut merasakan keajaiban di dalamnya.

Judul : Toko Antik KangTa [HaeSica]

Author : Yoorin Matsu

Cast : Jessica Jung ‘SNSD’, Lee Dong Hae ‘SuperJunior’, and Others.

Genre : Romance, Drama, etc.

Type : Oneshoot.

.

Another Story : Toko Antic KangTa [SeoKyu]

.

.

.

“Dibutuhkan seorang penjaga toko. Hubungi Toko Antik KangTa.” Gumam Jessica. Saat lewat di depan sebuah toko tua, ia menemukan selembar kertas putih yang tertempel di kaca toko. Pucuk di cinta ulam pun tiba, peribahasa yang cocok untuknya saat ini. Di saat Jessica membutuhkan pekerjaan paruh waktu, ia datang tanpa dicari.

Tanpa membuang waktu wanita keturunan Amerika-Korea itu langsung menyergap memasuki toko. Suaran dentingan bel pintu terdengar nyaring.

“Selamat datang di toko kami.” Seruan bernada berat khas pria terdengar samar. Jessica tak menemukan sesosok manusia pun di toko. Tanpa ambil pusing Jessica membalas seruan tersebut.

“Maaf, Tuan. Baru saja aku lihat pengumuman di depan. Aku berniat melamar pekerjaan disini.” Suara dentuman keras terdengar, dalam sedetik saja terdengar keributan di dalam toko. Suara orang terbatuk-batuk menggema.

Jessica memasang ekspresi waspada. Ia takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak-tidak.

Tak lama kemudian, sosok pria bertubuh jangkung muncul dari dalam. Dengan rambut berantakan, juga debu berterbangan disekitarnya. Penampilannya benar-benar kusut.

“Permisi. Aku Jessica, yang ingin melamar pekerjaan di sini.”Ucap Jessica. Ia sedikit ketakutan melihat sosok pria tersebut.

“Oh halo. Saya KangTa, pemilik toko antic ini. Jadi, Kau ingin berkerja disini?” sambutnya hangat. Pria itu nampak tua namun masih memiliki garis ketampanan di wajahnya.

“Ya, KangTa-ssi?”

“Aaah.. jangan panggil aku seperti itu. panggil saja Boss KangTa, mengerti?” pintanya. KangTa berjalan melewati Jessica. Mendekati arah kaca depan toko lalu mencabut kertas yang sudah tertempel di sana dua minggu lamanya. Jessica diam memperhatikan.

“Baiklah. Kau diterima.” Sahut KangTa ringan. Ia menampilkan senyum terbaiknya. Jessica keheranan. Semudah itukah ia diterima?

“Hanya itu? Tapi aku hanya bisa berkerja paruh waktu disini.” Jelas wanita berambut coklat terang itu. Mulutnya mengangga tak percaya. KangTa tertawa kecil.

“Tokoku ini menerima siapa pun yang mau bekerja di sini. Meskipun kau hanya separuh waktu menjaga toko, itu tak masalah. Lagi pula kami memang membutuhkan pegawai sesegera mungkin.” Ujarnya. KangTa mengambil salah satu kursi di meja, menepuk bantalan kursi mengisyaratkan Jessica untuk duduk di sana.

“Kau bahkan tidak menanyakan latar belakangku?” Jessica masih tidak percaya dengan keberuntungannya hari ini. Ia terus merenteti pertanyaan untuk boss barunya. KangTa menyipitkan matanya. Memandangi Jessica dari atas hingga ujung kaki. Dengan pose berpikir, KangTa terus memperhatikan Jessica.

“Kurasa kau dapat diandalkan. Lagipula apa yang bisa kau dapat di toko tua ini selain gaji yang kecil.” Jawab KangTa santai. Tangan kanannya menuangkan teh hijau dari cawan kemudian ia sodorkan salah satu cangkirnya untuk Jessica.

“Tapi aku hanya akan bekerja paruh waktu. Jadi…”

“Tidak masalah.” Potong KangTa cepat. Ia tersenyum lebar. “Yang terpenting hanyalah pegawai baru yang siap merawat dan selalu membersihkan toko. Aku terlalu sibuk untuk urusan lain. Lagi pula, jika tugas membersihkan ada di tanganku inilah jadinya.” KangTa merentangkan tangannya. Memperlihatkan betapa kotornya toko antic tersebut. Jessica tertawa kecil.

“Lalu pegawai sebelumnya?” pertanyaan lain ia lontarkan. KangTa menyesap tehnya sesaat. “Dulu ada yang menjaga toko, Seo Joo Hyun namanya. Tapi sejak dua minggu lalu ia mengundurkan diri.”

“Benarkah? Kenapa dia pergi?”

Alis KangTa terangkat sebelah. Wanita yang serba ingin tahu, pikirnya. Namun itulah yang membuatnya menarik.

“Menikah. Dia akan menikah dengan kekasihnya. Karena itu dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengabdikan hidupnya sebagai istri yang baik.” Ada nada kekecewaan disana. Jessica memandang lembut. Saat mengungkit mengenai Joo Hyun terbersit sinar kerinduan di mata KangTa, Jessica tahu itu. dengan sigap ia memegang tangan besar KangTa, menyentuhnya lembut. Senyuman tulus ia suguhkan.

“Aku akan bekerja disini dan akan melaksanakan seluruh perintah darimu, boss.”

.

.

.

Saat itu juga Jessica langsung bekerja di toko. KangTa pergi terburu-buru. Ia bilang banyak urusan lain di luar sana. Jessica percaya itu.

Tugas pertamanya tentu saja membersihkan seluruh sudut toko yang berdebu. Beberapa barang bahkan hampir tertutup debu. “Berapa lama tempat ini tidak di bersihkan, ya?” gumam Jessica.

Dengan lap bersih ditangan juga celemek yang telah melekat di badannya, Jessica mulai mengelap satu-persatu barang. Di mulai dari patung-patung kecil hingga piring-piring tua.

SREK.. BRUK..

Pintu toko terbuka kasar. Jessica berbalik kaget. Tangannya yang sedang mengelap rak terhenti. Matanya melirik waspada. Ia berjalan perlahan mendekati pintu. Jantungnya berdegup tidak karuan. Jujur ia merasa ketakutan.

Desahan nafas kelelahan terdengar. Pegangannya di kemoceng bulu mengerat. Semakin dekat ia dengan sumber suara, semakin sigap Jessica mengambil ancang-ancang. Siapa tahu ternyata pencuri yang datang.

“Siapa disana?” serunya. Matanya masih melirik waspada. Langkahnya semakin kecil. Ia menelan ludah berkali-kali. Secara mendadak tubuh besar menghalangi jalannya. Jessica memekik ketakutan. Tangannya yang memegang kemoceng terbuka begitu saja. Matanya terpejam erat.

Desahan nafas terdengar jelas. Bahkan Jessica bisa mendengar alunan debaran jantung sosok didepannya. Posisi keduanya begitu dekat. Jessica mundur perlahan. Ia mengintip sebelah mata. Saat matanya terbuka, ia melihat sesosok pria dengan peluh yang menetas di ujung-ujung rambutnya. Nafas pria tersebut tersenggal-senggal. Nampak kelelahan.

“Kau baik-baik saja?” Jessica mulai memberanikan diri bertanya. Pria itu hanya mengangguk. Lagi-lagi Jessica menelan ludahnya. “Ada yang.. bisa aku bantu?” oke, anggap pria ini adalah pelanggannya, tentu Jessica harus bersikap ramah pada pria ini sesuai amanat KangTa.

Pria itu nampak gelisah ia terus berbalik memandangi luar toko lalu Jessica. Terus seperti itu.

“Tuan?” tegur Jessica.

“Haah..” sosok anehnya itu hanya mendesah tanpa menjawab Jessica. Tubuhnya merosot perlahan. Ia bersender di meja. Pria itu kini tengah mengatur nafasnya. Sementara Jessica masih mematung ditempat. Masih memperhatikan.

Pria itu terbatuk-batuk. “Kau pasti butuh minum. Biar aku ambilkan.” Seru Jessica. Dengan cepat ia menuangkan segelas air putih.

Pria aneh itu langsung menyambar gelas dan meneguk habis hingga tak bersisa. Kehausan rupanya, batin Jessica. Ia mengambil kembali gelasnya.

“Terimakasih.” Ucap pria itu. Ia segera bangkit. Menatap Jessica dan tersenyum padanya. “Terimakasih banyak, emmm…”

“Jessica.” Sambarnya, Jessica tersenyum manis “Namaku Jessica.” “Terimakasih Jessica-ssi.”

Pria itu membungkuk samar menunjukan kesopanannya sesaat. Lalu pergi dari toko secepat mungkin. Jessica berdiri mematung, memandangi sosok pria itu hingga hilang diantara keramaian taman Seoul.

.

.

.

Toko antic yang biasanya buka pukul 10 tepat kini baru bisa dikunjungi pukul 2 siang. Itu dikarenakan Jessica, sang penjaga toko, baru bisa datang membuka tirai penutup toko setelah jam kuliahnya habis.

Di dalam toko Jessica sudah siap dengan celemek biru tua dan lap putih bersih yang telah ia cuci kemarin. Selesai membersihkan toko ia berniat membuang tumpukan sampah kertas yang menumpuk. Dengan satu kantung sampah besar Jessica keluar dari toko menuju tong sampah besar yang ada di ujung taman.

Siang itu, seperti biasa, taman Seoul masih ramai dengan para penduduk yang menghabiskan waktu bersantai. Jessica menyempatkan menghirup udara segar di taman.

“Hei.” Tegur seseorang. Jessica menoleh, alisnya mengernyit heran. Ia tak mengenal sosok pria bertopi yang mengenakan hoodie abu-abu lusuh yang sedang berjalan menghampirinya.

Wanita itu memiringkan kepalanya, memandang heran kearah pria itu.

“Kau tak ingat aku?” tanyanya. Alis Jessica semakin berkerut. Ia memperhatikan sosok itu lekat-lekat. Pikirannya mengingat kembali kejadian kemarin.

“Kau pria yang kemarin kan?” tanyanya memastikan.

“Apa kabar, Jessica-ssi?” sapa pria itu. Hari ini penampilannnya tak terlalu buruk, tidak seperti kemarin. Rambut coklatnya tertata rapi, pakaiannya pun tak basah oleh keringat.

“Sangat baik. Bagaimana denganmu, tuan…”

“Lee Dong Hae. Panggil aku Dong Hae.”

.

.

.

“Jadi bagaimana bisa kemarin kau datang secara tiba-tiba ke tokoku dengan keadaan kelelahan?” tanya Jessica. Ia menyodorkan segelas coklat dingin untuk Dong Hae. Mereka duduk berhadapan di meja kasir toko. Dong Hae tersenyum tipis kemudian meneguk coklatnya.

Baru pertama kali bertemu, wanita itu langsung bertanya segala hal. Wanita yang menarik dan banyak bertanya. Itu hal yang pertama Dong Hae nilai dari Jessica Jung. Wanita ini bersikap hangat dan tak merasa canggung sedikit pun bertanya berbagai hal dengan orang yang baru pertama kali ia temui.

“Kau benar-benar ingin tahu ya?” goda Dong Hae. Ia tertawa keras. Jessica mengerucutkan bibirnya, membuat tawa Dong Hae semakin menggema di toko kecil itu.

“Karena di kejar-kejar oleh penagih hutang.” Jawab Dong Hae. Jessica sontak terkejut. “Penagih hutang?”

Dong Hae mengangguk, “Aku kalah judi.” Kali ini bola mata Jessica terbeliak kaget. “JUDI??” pekiknya.

“Tapi itu bohong.” Sahut Dong Hae pelan. “Apa?”

“Yang aku katakan hanyalah lelucon.” Dong Hae menahan tawanya yang siap meledak kembali.

“ISSH.” Desis Jessica. Ia memutar bola matanya kesal.

“Aku dikejar oleh preman.” Jawabnya lagi. kali ini ia berkata hal yang sejujurnya. “Banarkah?” namun Jessica nampak ragu. Ia menatap Dong Hae tajam.

“Kali ini aku bersungguh-sungguh.” Belanya. Jessica masih menatap dirinya. “Kenapa bisa?” oh, ya Tuhan ia benar-benar selalu ingin tahu.

“Karena aku tak sengaja menyenggol sikut salah satu dari mereka.” jujur Dong Hae lagi, namun tatapan tajam Jessica tak lepas begitu saja. Lama-lama Dong Hae merasa risih. “Aku berkata jujur. Aku bukan tipe pria pencari masalah dengan para preman, kau tahu?”

“Baiklah aku percaya.” Gumam Jessica, kalimatnya penuh dengan nada keraguan.

“Jad kau bekerja di tempat ini?” tanya Dong Hae mengalihkan topic pembicaraan. Mata Jessica berbinar senang ketika ditanya hal mengenai pekerjaan barunya.

“Ya. Aku baru bekerja dua hari disini.” Jawabnya bangga. Ia memandang kagum setiap sudut toko.

“Wow… luar biasa.” Puji Dong Hae, namun terdengar seperti sesuatu yang aneh di telinga Jessica. “Kenapa?”

“Tidak. Tapi… aneh saja melihat wanita muda sepertimu bekerja di toko tua dan sepi seperti ini. Toko barang antic? Bahkan tidak banyak orang yang ingin datang kesini.” Remeh Dong Hae.

Jessica cukup tersinggung dengan kalimat Dong Hae, meskipun ia baru bekerja selama dua hari ditempat itu tetap saja Jessica tidak suka ada yang menjelekkan toko antic KangTa.

“Kenapa harus aneh? Toko ini sangat luar biasa. Kau tahu bahkan dari toko yang kau bilang tua ini menyimpan banyak keajaiban.” Racau Jessica. Dong Hae membekap mulutnya. Mendengar penuturan Jessica tentang sesuatu yang berbau khayalan anak kecil membuat ia ingin tertawa lagi. Wanita ini ternyata berpikiran konyol.

“Keajaiban? Siapa yang bilang begitu?”

“Atasanku. Boss KangTa.”

“Dan kau percaya?” lagi-lagi Dong Hae meremehkan. Jessica mendelik kasar, “Tentu saja.”

“Ckckck.. kau sudah dibodohi dengan cerita anak kecil rupanya.” Dong Hae menggeleng-geleng tak percaya.

“Aku percaya. Lagipula seniorku, yang dulu bekerja disini pernah mendapatkannya. Dia bahkan bertemu dengan calon suaminya disini.” ujar Jessica tak mau kalah. Ia tetap bersikeras jika toko antic KangTa memang istimewa.

“Itu memang sudah di gariskan Tuhan. Bukan karena toko ini.” Cibir Dong Hae. Jessica berdecak kesal. Ia kalah berargumen dengan pria di hadapannya. Dong Hae tersenyum bangga. Ia selalu menang berdebat dengan siapa pun juga, tanpa terkecuali.

TENG.. TENG..

Pukul 5 sore. Waktunya toko untuk tutup.

“Maaf tuan, tapi toko kami akan tutup.” Ucap Jessica ketus. Dong Hae mengernyit heran atas perubahan mood Jessica.

“Baiklah. Aku juga ada urusan lain. Terimakasih untuk coklatnya, lain kali aku akan mentraktirmu, Jessica-ssi.” Pamit Dong Hae. Ia memakai lagi topi miliknya. Berjalan keluar toko dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku jaket.

“Cih, pria menyebalkan.” Gerutu Jessica.

.

.

.

Sama seperti sebelumnya. Hari Kamis merupakan hari kunjungan rutin KangTa ke toko. Seperti Kamis sore ini, KangTa datang ke toko antic. Matanya berbinar kagum melihat hasil kerja Jessica. Di tangan anak itu, toko senantiasa bersih dan terkesan ceria dengan berbagai ornamen di berbagai sudut.

“Selamat sore, boss.” Sapa Jessica yang duduk di balik meja kasir. Meskipun lelah, ia tetap tersenyum ceria. KangTa tak salah memilih orang sepertinya.

“Sore, Jessica-ssi. Bagaimana harimu?”

“Baik sekali.” Sahut Jessica. Ia seakan sudah mengerti. Jessica langsung membuka laci meja dan mengeluarkan buku keuangan toko mereka.

“Maaf, boss. Tidak ada barang yang terjual minggu ini.” Keluh Jessica. Ia memandang sendu KangTa, merasa bersalah karena tak mendpat pembeli. Namun ekspresi KangTa, bossnya itu, berbeda dari yang ia bayangkan. KangTa tersenyum-senyum tak karuan saat melihat buku keuangan mereka. Ada yang salahkah?

“Ada apa, boss? Ada yang salah? Atau kurang jelas?” tanya Jessica cemas. Takut jika ternyata bossnya ini sudah gila karena tak dapat pemasukkan.

“Tidak. Justru sangat jelas. Kau bahkan mencatat orang yang datang setiap harinya.” Jawab KangTa. Ia menahan tawanya. Jessica tersipu malu. “Itu karena tak ada lagi yang bisa kutulis.”

“Haaa… sudahlah. Tolong dimaklumi jika toko sering sepi pengunjung apalagi pembeli. Tapi tenang itu sama sekali tidak berpengaruh pada gajimu.” Tukas KangTa meyakinkan.

“Jadi bagaimana minggu pertamamu bekerja?” KangTa mengganti topic lain. Sudah cukup mereka membahas tentang keuangan yang tak berjalan mulus.

“Baik. Yang kulakukan hanya membersihkan toko saja. Tidak terlalu melelahkan.”

“Tapi membosankan.” Potong KangTa cepat. Jessica tersenyum tipis membenarkan.

“Tapi… dihari pertama aku bekerja ada yang mengunjungi toko. Meskipun kurasa ia tidak benar-benar berkunjung.” Ujar Jessica mengawali cerita panjangnya.

“Benarkah? Ceritakan padaku.” Pinta KangTa antusias. Ia menarik kursi untuk lebih mendekat ke meja kasir, memasang telinga baik-baik, siap untuk mendengarkan.

“Dia seorang pria muda. Kurasa berumur sekitar 24-25 tahun. Saat aku sedang membersihkan toko ia datang tiba-tiba. Membuat keributan sesaat lalu diam karena kelelahan.” Jessica merenung sebentar mengingat kembali kejadian 4 hari lalu. KangTa masih menatap penasaran. “Kutanya ‘ada yang bisa kubantu’, ia malah diam. Kurasa ia benar-benar kelelahan. Saat kuberi minum ia langsung menghabiskannya, mengucapkan terimakasih lalu pergi begitu saja.”

“Menarik.” Respon KangTa. Kepalanya mengangguk-angguk menanggapi cerita Jessica.

“Ah.. ya.” Seru Jessica tiba-tiba. “Besoknya kami juga bertemu.” Lanjutnya. KangTa pura-pura kaget. “Benarkah? Wow.. mengejutkan.”

“Menurutku pertemuan kedua itu mengesalkan. Baru pertama bertemu tapi sudah bersikap tidak sopan.” Keluh Jessica. Ia merengut kesal mengingat betapa menyebalkannya sosok pria itu. Ia membuka buku bacaan yang ada di sampingnya. Membacanya tanpa niat melanjutkan cerita.

“Ceritakan padaku seberapa menyebalkannya.” Jessica mendongak. Ia menggeleng kuat. Terlalu menyebalkan untuk diceritakan, pikirnya.

“Baiklah. Aku tak memaksa. Tapi bagaimanapun, seberapa menyebalkannya dia, dia itu pelanggan kita. Layani dia dengan baik.” Nasihat KangTa. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan berkeliling toko. Jessica termangu. Benar apa kata atasannya. Bagaimanapun juga Lee Dong Hae adalah pelanggan mereka.

“Tapi dia datang kesini bukan untuk membeli. Ia hanya tidak sengaja masuk ke toko.” Bela Jessica keras. KangTa mengintip di balik celah rak. “Tapi kau sudah melayaninya di hari pertama. Bukankah ia itu pelanggan kita? Pelanggan belum tentu pembeli, Jessica-ssi.”

Jessica berpikir kembali. Jika dipikir terus menerus ucapan KangTa ada benarnya. Jessica menggeleng cepat. ia tak mau repot-repot memikirkan pria itu. Jessica kembali fokus pada bacaannya.

“Jessica-ssi…” panggil KangTa. Paman tampan itu kini ada di kumpulan lukisan tua.

“Bukankah ia pelanggan pertamamu?”

“Eh?” Konsentrasi Jessica buyar seketika.

.

.

.

Jessica kembali mencoret-coretkan garis hitam pensilnya di atas kertas sketsa. Di siang hari toko selalu sepi, tak ada yang bisa ia kerjakan selain menggambar sketsa gaun malam yang sedang ia pikirkan saat ini.

Jessica bukan seorang desainer pakaian. Namun ia cukup ahli dalam menggambar sesuatu apapun itu. Tak heran jika ia adalah seorang mahasiswi Jurusan Desain. Saat gaunnya hampir jadi, bel pintu berdenting.

“Selamat datang di Toko Antic KangTa.” Sambutnya ceria. Ia tersenyum ramah. Pelanggan pertama di hari itu malah terdiam di ambang pintu, tersenyum balik menatap Jessica.

“Hai.” Sapanya, yang tak lain adalah Lee Dong Hae, si pria menyebalkan. Senyum Jessica turun. Posisi yang tadinya berdiri kembali terduduk di kursi. Ia malas melayani pria itu.

“Halooo… aku ini seorang pelanggan, tak baik jika kau mengacuhkanku, Jessica-ssi.” Dong Hae mengingatkan. Ia tersenyum jahil. Jessica mendengus kesal. Ia jadi teringat kata-kata KangTa minggu lalu. “Menyebalkan.” Desisnya.

Lee Dong Hae masih terdiam berdiri di ambang pintu. Ia menatap Jessica bingung. Dong Hae heran kenapa wanita itu malah memalingkan wajahnya. “Jessica-ssi. Bagaimana jika kita minum diluar? Bukankah aku sudah berjanji mentraktirmu.”

Kedatangan Dong Hae ternyata untuk hal itu. Pria itu cukup bertanggung jawab untuk memenuhi janjinya. Bahkan Jessica sudah tak ingat lagi mengenai janji sepintas itu.

“Tidak bisa, Tuan. Aku harus bekerja.” Tolak Jessica ketus. Ia berpura-pura sibuk mengelap meja. Dong Hae tidak menyerah begitu saja. Dia bukan tipe sesorang yang mudah putus asa.

“Hanya sebentar. Aku janji takkan lama. Setelah ini hutangku terbayar sudah.” Bujuknya. Jessica menimang-nimang sesaat ajakan Dong Hae. Hingga akhirnya ia mengangguk pasrah.

.

.

.

Dong Hae menuntun Jessica ke Coffee Shop terdekat. Hanya butuh waktu 3 menit saja untuk mereka tiba di tempat itu. Jessica cepat-cepat memesan Caffelate pada pelayan berseragam ungu. Ia tak mau berlama-lama di luar toko. Berbeda dengan Dong Hae yang terkesan santai bahkan terlalu lamban bagi Jessica.

Black coffee. Juga cheese cake blueberry.” Pesannya. Ia melempar pandangan menggoda pada pelayan wanita itu. Jessica memandang jijik. Pria ini memang menyebalkan.

“Kau tidak ingin memesan makanan?” tawar Dong Hae. Untuk menjawab saja Jessica malas. Ia hanya menggeleng acuh. Dong Hae berdecak pelan. Wanita pemarah, batinnya.

“Jadi bagaimana? Setelah bekerja lebih dari satu minggu, sudah mendapat keajaiban dari tokomu?” tanyanya. Jessica melirik tajam. Ia tak suka tatapan menertawakan Lee Dong Hae.

“Aku tak ingin membahas hal itu.” sahutnya cepat. ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Lebih baik ia melihat jalanan yang ramai dan bising daripada muka merendahkan Lee Dong Hae.

Pria itu tertawa renyah.

“Tak ingin membahas karena aku benar, dan kau salah, ya kan?” ia bahkan memulai perdebatan lagi.

“Aku tak ingin berdebat tentang hal ini.” Jessica mulai kesal. Sudah ia duga akan seperti ini. Bersama Dong Hae, menaikkan hormon adrenalnya.

“Hei.. hei.. calm girl. Aku hanya bercanda, kau tahu?” Jessica mencibir. Ia berharap pelayan montok tadi cepat datang membawa pesanan mereka, agar ia bisa cepat kembali. Sedangkan Dong Hae mengetuk-ngetuk meja. Ia bosan dalam keheningan.

“Jadi kau bekerja disana setiap hari?” oke, pria ini tak bisa bertahan di kesunyian lebih lama lagi. ia memilih topic –yang menurutnya- berbeda agar wanita dihadapannya bisa cerewet seperti pertemuan mereka minggu lalu.

“Aku hanya pekerja paruh waktu.” Jawab Jessica pelan. Lebih seperti gumaman. Beruntung Lee Dong Hae memiliki pendengaran yang tajam.

“Oh ya? Wow.. jadi kau masih bersekolah?” pertemuan kali ini Dong Hae yang lebih banyak bertanya. Ia mencoba mengakrabkan diri, padahal Jessica enggan mengenalnya lebih jauh.

“Aku seorang mahasiswi.”

“Hah? Mengejutkan. Kau bahkan lebih muda dariku tapi sikapmu seperti bibi-bibi.” Mulut Dong Hae kembali memancing kemarahan Jessica.

“Bukan aku yang tua, tapi kau yang terlalu kekanakkan.” Jessica membalas tak kalah menyakitkan. Ia memandang datar. Lee Dong Hae masih tersenyum sinis, ia anggap pembicaraan itu semakin menyenangkan.

Pelayan wanita datang dengan nampan di tangannya. Ia menata pesanan di meja lalu pergi setelah mengucapkan beberapa patah kata yang bahkan tak digubris oleh keduanya.

“Aku kekanakkan? Bukan kau yang kekanakkan sehingga percaya tentang keajaiban?”

SRUUUUT. Jessica menyedot minumannya hingga bersisa setengah gelas. Menelannya langsung, mengabaikan sensasi dingin yang melewati dadanya. Ia malah berharap dinginnya es bisa mendinginkan otaknya yang mengepul.

“Terimakasih atas minumannya, Tuan Lee. Maaf atas ketidaksopananku. Permisi.” pamit Jessica tanpa membalas perkataan Dong Hae. Saat ia berdiri, Dong Hae menarik lengan kanannya.

“Kita bisa bertemu lagi?” Jessica memandang tajam. “Hanya jika kau tak mengajakku berdebat lagi, Tuan Lee.” Ketusnya.

“Kalau begitu bisa kita bertemu jika aku mengajakmu berkencan?”

Jessica terbeliak kaget. Pria ini mengajaknya berkancan? Mereka bahkan baru bertemu tiga kali. Jessica menghempaskan pegangan Dong Hae.

“Maaf, tapi aku tak suka digoda olehmu.” Penolakan yang tegas dari Jessica. Ia mengatur nada suaranya agar terdengar normal. Namun ia gagal mengatur pipinya yang sudah memerah.

Dong Hae tersenyum kecil.

“Aku serius. Bertemu denganmu membuatku penasaran. Aku suka melihatmu yang terkaget-kaget. Aku suka mendengar rentetan pertanyaanmu. Aku bahkan suka dengan mata sinismu. Aku gila karena bertemu denganmu di toko itu. Karenanya, maukan kau berkencan denganku dan memastikan bahwa aku tidak gila?” jelas Dong Hae panjang lebar. Ia lantang berbicara, padahal hatinya sudah berdebar-debar tak karuan. Cukup berani juga dirinya mengajak kencan wanita yang baru ia kenal.

“Lucu sekali.” Ketus Jessica. Pipinya semakin memanas. Jessica berbalik pergi, namun Dong Hae menahannya lagi. Tunggu.. apa ia yang salah atau tangan Dong Hae yang memang berkeringat? Pria itu terlalu gugup rupanya. Menahan wanita keras kepala itu untuk bersedia berkencan dengannya merupakan pengalaman pertama untuk Dong Hae.

“Dan juga untuk memastikan apakah keajaiban tokomu itu memang ada atau tidak. Karena kurasa ada yang salah denganku ketika masuk ke toko tua tersebut untuk pertama kalinya. Apa itu efek keajaiban yang kau maksud?”

Jessica melongo. Ia kaget dengan penuturan Dong Hae. Lelaki itu secara tak langsung percaya dengan perkataannya. Saking kagetnya, Jessica tak sadar jarak keduanya semakin menyempit.

“Aku…” desaunya.

“Aku tak menerima penolakkan lagi. Aku jemput Sabtu sore di depan tokomu. Berdandan yang cantik oke.” Bisik Dong Hae. Ia berlalu melewati Jessica setelah menyimpan beberapa ribu won di meja café. Dong Hae tak bisa berdiri lebih lama lagi. Jika tidak Jessica bisa mendengar dadanya yang berdebar.

Jessica termangu. Apa ini? Apa maksudnya? Bahkan Lee Dong Hae tak bertanya apa ia bersedia atau tidak.

Apa ini yang dimaksud keajaiban toko antic KangTa? Karena bekerja di toko KangTa ia bisa bertemu Dong Hae yang mengajaknya berkencan. Dan berkat toko itu pula ia bisa saja mendapatkan kekasih untuk pertama kalinya.

Ini benar-benar keajaiban. Jessica berteriak girang di dalam batinnya.

Tunggu…

Benarkah mereka akan berpacaran?

.

.

.

END

28 pemikiran pada “Toko Antik KangTa [haesica]

  1. daebakkkkk bgt ceritanya
    hihihi hae oppa ska bgt nih mancing amarah sica unnie
    wow hae oppa ngajak kencan sica unnie?? #asikkkk
    sequel dunk author cz kta q agk gantung hehehe

  2. chingu kok mau yg seokyu atau haesica dua-duanya gantung ceritanya :(
    aduh hae oppa bisa langsung cinta gitu sama sica eonnie kayanya tokonya emang bawa keajaibannya kebukti sama seokyu dan haesica
    buat sequelnya ya chingu yg seokyu juga ya ^^

  3. aaa ini keren bgt……
    harusnya endingnya mereka jadian..
    ahh tolong di lanjutin thor.. menarik bgt loh di ff :D *haesica shipper kumat*

  4. Ommo sy telattt….. #nutup idung…

    Hmm, toko yg aneh tapi membawa berkah… Sica-Donghae entar lagi jadiaan tuh… #ahh, Sujud Syukur, Legaaa……

    Yap, lagi2 sy nemu cerita manis Haesica dari author yg maniss pula…. Ahahaa… Ide’nya kren bgt chingu, crita nyenengin, gambaran suasana’nya jg pass bgt… #apa lagi yaa? Ahh… Pokok’nya sy suka suka suka…. ;)

    ~Nice ff… Salam kenal…

We really appreciate your comment ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s