Tears (Part 4)

Haloo ^^

maaf banget readers, aku selalu lama posting ff TT^TT

Jujur aja ini pertama kalinya aku buat ff chapter, jadinya aku udah bingung ini ceritanya mau dilanjutin kayak gimana :(

semoga kalian suka ya ceritanya >,<

****

Donghae sangat cemas saat menemukan Jessica pingsan dikamar anak mereka. Ia takut kalau terjadi apa-apa dengan istrinya itu.

“Bagaimana keadaannya, dokter?” Tanya Donghae pada dokter yang sedang memeriksa Jessica. Setelah menemukan Jessica pingsan, dengan cepat Donghae langsung menelepon dokter itu.

“Keadaan Nyonya Lee semakin buruk, Tuan Lee. Apalagi ia tidak mau makan, jadi tak ada asupan makanan yang masuk kedalam tubuhnya. Seharusnya ia masih dirawat di Rumah Sakit agar bisa cepat ditangani jika hal seperti ini terjadi lagi..”

Donghae yang mendengar penjelasan dokter hanya tertunduk memandangi wajah istrinya yang belum sadarkan diri. Ia mendesah.

“Apa yang harus saya lakukan, dokter?” Tanya Donghae putus asa.

Dokter itu memandang Donghae dengan tatapan iba. “Jika memang Ny. Lee sendiri yang ingin tinggal dirumah, sebaiknya kita suruh salah satu suster untuk membantu merawatnya disini…”

“Baiklah dok..”

Beberapa hari kemudian…

“Nyonya.. seharusnya nyonya makan…” Seorang suster yang ditugaskan merawat Jessica sedang berusaha membujuk Jessica untuk makan. Jessica menggeleng.

“Nyonya.. nanti nyonya tak bisa sembuh kalau tidak makan.. nyonya juga belum minum obat..” Suster itu mendekatkan sendok kemulut Jessica, tapi Jessica menepis tangannya.

“SUDAH KUBILANG, AKU TIDAK MAU MAKAN!!” Teriak Jessica. Jessica berusaha bangkit dari tempat tidur, lalu keluar dari kamarnya.

Suster itu mendecakkan lidah. Ia menekan ponselnya, menelepon Donghae.

“iya. Halo?”

“Maaf mengganggu tuan. Tapi Ny. Jessica tetap tidak mau makan.. bagaimana ini?”

“Kau sudah coba membujuknya?”

“sudah tuan, tapi tetap dia tidak mau makan..”

Lalu terdengar suara desahan napas Donghae. “baiklah.. biar nanti aku saja yang mencoba membujuknya.”

***

Jessica membuka pintu kamar calon bayinya. Ia masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar. Jessica duduk diranjang double bed dikamar itu, sambil mengelus seprai bermotif mickey mouse yang lembut. Pandangan Jessica menangkap boneka beruang besar yang saat itu dibelinya, ia lalu mengambil boneka itu dan memeluknya.

Mata Jessica memandang pigura-pigura foto yang tertempel didinding. Terdapat foto-foto dirinya dan Donghae disana. Foto-foto dirinya dan suaminya itu saat masa kehamilan, foto Donghae mengecup perutnya yang buncit, foto Jessica yang sedang mengelus perutnya…

Masih banyak dinding yang belum dipasangi pigura, karena Jessica sengaja menyisakannya untuk foto anaknya nanti.. Jessica sengaja membeli sekardus pigura foto, yang seharusnya dipasangi foto bayinya itu…

Air mata Jessica menetes lagi. Ia memeluk boneka beruang itu erat, seakan-akan boneka itu adalah anaknya sendiri…

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Donghae masuk, masih memakai jas kantornya.

“Ternyata kau disini, chagi..” Donghae tersenyum. Ia duduk disamping istrinya itu, lalu mengecup dahinya.

“Aku ingin suster itu pergi..” ucap Jessica langsung.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka dia disini..” Jessica berkata, tanpa menatap Donghae. “dia cerewet sekali. Aku tidak suka..”

“Tapi sayang..” kata Donghae. “Jika dia tidak disini, nanti siapa yang merawatmu?”

“Aku tidak peduli. Aku mau dia pergi.. aku tidak suka dengannya. Aku benci” Jessica menatap mata Donghae. Donghae yang kaget karena Jessica menatapnya, langsung memalingkan wajah. Hatinya terasa tertusuk jika melihat mata besar dan hitam Jessica yang seperti tak punya semangat hidup.

“Tapi sica..” Donghae mencoba menyentuh istrinya itu, tapi Jessica menepis tangannya.

“Aku benci dia..” kata Jessica dingin.

Donghae terenyak. Ia tak suka mendengar suara dingin Jessica. Ia tak suka mendengar suara serak Jessica sekarang…

“baiklah..” ucap Donghae kemudian. “Aku akan menyuruhnya pergi.. tapi kau harus makan, chagi.. arrasseo?” Donghae memeluk istrinya itu.

Donghae merasakan Jessica menganggukkan kepalanya sekali, lalu mempererat pelukannya.

***

SREEEKKK

Ibu Jessica menarik tirai jendela (?) kamar Jessica dan Donghae. Sudah seminggu ibu Jessica menginap dirumah HaeSica, untuk menjaga anak sulungnya itu. Sebelumnya, Ibu Jessica menginap diapartemen Krystal. Ayah Jessica sendiri terpaksa kembali ke San Fransisco untuk mengurus perusahaannya disana.

“Jessie…. Bangun..” Ibu Jessica mengelus rambut anak sulungnya yang sekarang menjadi kusut karena sudah tak dirawat. “Ayo mandi..”

Sedangkan Donghae dari semalam tak pulang, karena harus lembur dikantornya.

Jessica terbangun dari tidurnya. Ia menatap ibunya, lalu menuju kekamar mandi tanpa mengucapkan satu katapun.

Ibu Jessica sangat sedih dengan keadaan anak sulungnya itu. Ia semakin pendiam. Ia semakin depresi dengan kejadian itu. Ibu Jessica menghela napas.

“Tuhan.. tolong berikan yang terbaik untuk anakku…”

***

Dari hari ke hari, keadaan Jessica semakin parah. Ia sudah jarang bicara, ia tak seperti dirinya yang dulu lagi. Ia seakan ‘membunuh’ dirinya yang dulu. Sekarang, hanya ada Jessica yang pendiam dan dingin…

Sementara Donghae sendiri, seakan berusaha sesibuk mungkin dikantor. Ibu Jessica ingin sekali menegurnya, beliau ingin berkata bahwa seharusnya ia lebih sering dirumah, tapi ibu Jessica tahu. Sebenarnya menantunya itu depresi dan stress karena sedih dengan keadaan Jessica, makanya ia menyibukkan diri…

Jessica dengan pelan kembali masuk kedalam kamar calon bayinya, entah ia lebih sering menghabiskan waktunya dikamar itu. hanya diam sambil menerwang, dengan boneka beruang dipelukannya.

Jessica menatap boneka itu, lalu tersenyum. Cara ia tersenyum sangatlah aneh.

“Bayiku…” gumamnya. “hehehe.. bayiku…”

Ia memandang boneka itu lama, sampai tiba-tiba ibu Jessica datang membawa nampan berisi makanan.

“Jessie.. makan siang dulu..” kata Ibu Jessica. Jessica melihat ibunya hanya membawa satu mangkuk bubur dan segelas air. Ia hanya diam saja.

“Eomma pergi ke supermarket dekat sini dulu ya..” kata Ibunya. Jessica mengangguk.

Setelah Ibu Jessica pergi, Jessica mendudukkan boneka beruang yang ada dipangkuannya tadi ke kereta bayi, lalu ia mengambil mangkuk bubur. Ia menyendokkan bubur dan menyodorkannya kearah mulut si boneka, seakan ingin menyuapinya.

“Ayo makan…” kata Jessica.

Jessica sudah menunggu cukup lama, tapi ia tak mendapat respon.

“Kau tidak mau makan..?” tanya Jessica kepada si boneka. “Kau mau aku yang makan..?”

Jessica tersenyum aneh lagi. “baiklah… eomma yang akan memakannya….”

Jessica memakan bubur itu sampai habis.

“Eomma sudah memakannya sampai habis. Kau tidak akan menyesal, kan…?” tanyanya lagi kepada si boneka. tapi tentu saja, ia tak mendapat respon apapun dari boneka itu.

Jessica tersenyum, lalu lama kelamaan senyumannya memudar, dan wajahnya kembali datar…

***

Donghae baru saja pulang dari kantornya. Ia merasa kepalanya sangat sakit. Urusan dikantornya membuat tenaganya seakan terkuras banyak.

Donghae masuk kedalam kamarnya, namun ia tak menemukan istrinya, Jessica. Baru saja ia ingin memanggil Jessica, tiba-tiba terdengar suara keras dari kamar calon bayinya.

PRANGGGGG!!!!

Dengan cepat Donghae berlari menuju kamar itu, dan menemukan Jessica sedang membanting pigura-pigura fotonya yang terpajang dinding. Jantung donghae seakan berhenti berdetak melihat istrinya itu membanting foto mereka berdua, saat masa kehamilan Jessica itu.

“Buang! BUANG SEMUA INI!!!!”

PRANGGG!!!!

Jessica berteriak sambil membanting-banting pigura besar dengan foto Jessica dan Donghae tersenyum kearah kamera, dengan perut Jessica yang buncit.

“Aku benci.. AKU BENCI!!!!” Jessica membanting, menendang, dan menginjak pigura-pigura yang berserakan dilantai. Jessica seakan tak peduli ketika kakinya mengeluarkan darah, karena terken pecahan kaca.

Donghae yang tadi mematung sesaat, langsung tersadar dan segera menahan istrinya itu. Ia memeluk Jessica, berusaha menghentika Jessica ketika Jessica baru saja ingin mengambil pigura lainnya untuk dibanting.

“LEPAS!! LEPASKAN AKU!!!” Teriak Jessica. Wajah Jessica memerah, pipinya basah karena air mata yang meluncur dengan deras.

“Jessica.. berhentilah..” Donghae merasa ingin menangis melihat kelakuan istrinya itu. ia sekuat tenaga memeluk Jessica yang sekarang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Jessica berteriak-teriak sambil menendang, memukul dan entah apa lagi untuk meloloskan diri.

“LEPASKAN AKU!! AKU BENCI ITU! BUANG SEMUA ITU! BUANG!!!” Teriak Jessica dengan suara kencang!

“Jessica… berhentilah!”

“TIDAK.. AKU BENCI… BUANG SEMUA ITU!! AKU TIDAK SUKA! BUANG!!!!!” Jessica masih meronta-ronta. Ia memukul-mukul Donghae.

“BERHENTILAH SEPERTI INI, JESSICA!” Bentak Donghae. Jessica langsung terdiam dipelukan donghae. Air mata masih tetap mengalir.

“Jangan seperti ini Jessica… aku mohon..” air mata Donghae juga sudah menetes, ia menangkup pipi Jessica dengan kedua tangan. Ia menatap mata Jessica yang hitam kelam itu, dan saat itu juga Donghae merasa sekujur tubuhnya kesakitan. Hanya karena menatap mata Jessica yang penuh dengan keputus-asaan.

“Aku mohon sica.. aku mohon…” Donghae memeluk Jessica. Sedangkan Jessica hanya diam,…

Setelah keadaan menjadi tenang, Donghae mengajak Jessica duduk dan mengobati kaki Jessica yang penuh luka.

Donghae merasa dirinya yang  kesakitan saat mengobati kaki Jessica itu. ia seakan tak tahan ketika ada serpihan kaca kecil kira-kira berukuran 3 cm tertancap dikaki Jessica. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang akan tumpah dan juga berharap jika ia seperti itu, dadanya tak akan terasa perih lagi. Jessica pasti kesakitan. Donghae merasa ingin menukarkan dirinya agar ia yang merasakan kesakitan itu, bukannya Jessica. Bisakah seperti itu, Tuhan?

Sedangkan Jessica? Ia hanya diam dengan wajah datar sambil melihat kakinya yang diobati Donghae. Ia tak meringis, ia tak mengaduh kesakitan, ia hanya diam. Seakan-akan Jessica sudah mati rasa. Seakan-akan Jessica tak merasa dirinya terluka…

Karena menurutnya, Hal kecil ini tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakitnya saat harus kehilangan bayinya…

***

Donghae terlihat gundah. Ia mengacak-acak rambutnya, frustasi. Ia kembali mengingat kejadian kemarin, saat dirinya melihat Jessica memabnting pigura-pigura foto itu…

Tuhan.. apa salahku? Teriak Donghae dalam hati.

Melihat keadaan Jessica kemarin, entah membuat hati Donghae terasa campur aduk. Ia seakan-akan habis tusuk dengan ribuan pisau, karena sekujur tubuhnya terasa sakit melihat kelakuan Jessica.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya, dan seorang wanita memakai blazer berwarna hitam dan rok ketat warna senada yang sangat pendek, masuk kedalam ruangannya dengan senyuman centil.

Wanita itu ada Sunye, yang tak lain adalah sekretaris Donghae.

“Ini ada berkas-berkas yang harus ditanda tangani, presdir..” Kata Sunye.

Donghae dengan malas menerima berkas itu dan memeriksanya. Lalu ia mengambil pulpen dan menandatangi berkas-berkas tersebut.

Sunye yang sedari tadi memperhatikan Donghae langsung bertanya.

“Pak presdir.. anda kenapa? Sepertinya anda kelelahan..” kata Sunye dengan nada simpatik yang dibuat-buat.

“Ya, begitulah. Ini berkasnya” Donghae mengembalkan berkas itu kepada Sunye. Sunye tak langsung pergi dari ruangan Donghae, tapi ia malah berjalan mendekati Donghae.

“Maaf, presdir. Tapi apakah anda belum makan siang? Anda kelihatan sangat pucat. Apakah anda sakit?” Sunye baru saja ingin menyentuh dari Donghae, tapi Donghae menepisnya.

“aku tidak apa-apa, Sunye-ssi, sebaiknya anda keluar sekarang..”

“Ah.. maaf.. tapi.. sepertinya anda punya suatu masalah..”

Donghae mendelik kearah Sunye. Sunye balas dengan menatap Donghae tanpa ragu.

Sunye tersenyum lebar. “saya bisa menjadi tempat curhat anda jika anda berkenan..” katanya dengan manis. “saya tahu anda punya masalah. Anda bisa cerita kepada saya. Jika saya bisa, saya pasti membantu..”

Donghae menatap Sunye yang menatapnya dengan lembut. Donghae menghela napasnya.

TBC

Gimana readers? semoga gak tambah gaje yaa >,<

dicomment ya :) gomawo :)

35 pemikiran pada “Tears (Part 4)

  1. jangan-jangan nanti ada salah paham lagi gara-gara sunye deket sama haeppa, tidak boleh
    lanjut chingu buruan ya hehe

  2. Sica eonni tambah parah…*kasihan* eonni sadarlah…
    Yah Sunye dtang,,oppa jgn selingkuh ma Sunye..*jujur aku ga suka dgr skandal Haeppa ma Sunye,waktu dgr skandal’a,aku nangis,,ga rela,,Sunye baik sih tp ma yg lain aja jgn ma Haeppa,,*

  3. aduh ceritanya sedih bgt sampe buat q nangis
    sica unnie tolong jangan ky g7 , q sedih bgt sica unnie terpuruk sprti itu
    ih sunye jangan ganjen ma hae oppa dunk #ngeluarin golok
    ok lanjuuttt

  4. eonnie ku knpa jd gt ? Aku takut sica jd gila. Sica jebbal jgn kayak gni kasiha si ikan cupang. Apa lg ada sunye tuh. Ntar kalo hae berpaling gmn ?
    Msalh anak haesica kn bs buat lg. Hehehe.

  5. Ceritanya makin sedih banget (˘̩̩̩.˘̩ƪ) ,sica udah berubah,sica bukan sica yg dulu lage,sica kayak hidup di dunianya sendiri,kasihan donghae (˘̩̩̩.˘̩ƪ) sip…cerita bagus (ง’̀⌣’́)ง ,hwaiting (งˆ▽ˆ)ง

  6. Wahh,,
    kyaknya bakalan ada penganggu nih..

    Sunye Jgn macam macam ya, awas aja klo macam” tak tikam nanti..
    Haha
    *evil laugh*

We really appreciate your comment ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s