Tears (Part 3)

Title : Tears

Cast : Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior)

***

2 minggu kemudian

Jessica duduk di ranjang rumah sakit, sambil menerawang. wajahnya sangat pucat. bibirnya kering. tubuhnya juga menjadi sangat kurus sekarang.

“Jessica.. makanlah dulu…” ibu Jessica duduk dibangku samping ranjang, memegang mangkuk bubur ditangannya. Jessica yang dari tadi dipanggil ibunya tak bergeming, tetap terdiam.

Ibu Jessica menghela napasnya. ia sedih melihat anak sulungnya yang menjadi seperti ini. dua minggu yang lalu, ketika mendengar Jessica kecelakaan, ia dan suaminya yang tinggal di San Fransisco langsung mencari tiket pesawat dan pergi ke seoul untuk melihat keadaan putrinya itu.

Jessica sangat terpukul dengan kejadian saat itu. ia jadi menyalahkan dirinya, dan berkata bahwa semua itu adalah kesalahannya. ia sering menangis histeris, sambil mengucapkan kata maaf. ia sering berkata bahwa ia adalah ibu yang jahat, yang telah membuat anaknya tiada.

‘Jessica tetap tidak mau makan..’ Ibu Jessica mengirimkan pesan singkat kepada Donghae. Jessica memang menolak jika disuruh makan, walaupun ibunya dan Donghae telah membujuknya. jika ia makan, ia akan memuntahkan kembali makanan tersebut. begitu juga dengan obat-obat yang diberikan dokter. Jessica bersikeras tak mau memakannya.

sekarang, untuk menangis saja ia sudah tak punya tenaga. ia jadi lebih sering diam, dan melamun…

‘baiklah bu, aku sudah selesai rapat. aku akan kesana sekarang..’ Ibu jessica membaca balasan pesan dari menantunya itu.

Ibunya menyendokkan bubur dari mangkuk, lalu mengangkatnya kearah jessica. “sica.. kau benar-benar tidak mau makan?”

Seperti sebelum-sebelumnya, Jessica hanya diam, tak menjawab ibunya.

***

“Chagi… bagaimana keadaanmu sekarang?” Sapa Donghae kepada istrinya. Setelah rapat dikantornya tadi, Donghae langsung bergegas untuk menemui Jessica.

Donghae melepaskan jasnya, dan meletakkannya diatas meja. Donghae melangkah mendekati Jessica yang masih terdiam. Ibu Jessica berdiri dari bangku, dan memberikan mangkuk bubur kepada Donghae.

“Daritadi dia begitu terus. Sebaiknya kau yang membujuknya..” kata ibu Jessica. Ibu Jessica langsung keluar, meninggalkan Donghae dan Jessica.

Satu tangan Donghae terulur, mengelus pipi Jessica. “Kau tidak mau makan, chagi?” Tanya Donghae lembut. Perlahan Jessica menatapnya, sambil menggeleng pelan.

“Kenapa tidak mau?” Tanya Donghae lagi. Ia menekan suaranya agar terdengar normal. Melihat kondisi istrinya yang seperti ini membuat tenggorokan Donghae tercekat.

Jessica menggelengkan kepalanya lagi.

“Kau harus makan, chagi.. Kau tak boleh begini terus..” kata Donghae. Jessica tetap menggeleng.

“Jessica…” panggil Donghae. “kau harus makan.. nanti kau sakit…”

Jessica terdiam, lalu menjawab. “Biar saja…” kata Jessica dengan suara lemah. “Itu hukuman yang pantas untuk ibu yang jahat sepertiku…” Suara Jessica terdengar pelan, lemah, dan serak. Mendengar kata-kata dari istrinya itu, air mata Donghae kembali menetes. Donghae mengulurkan tangannya memeluk Jessica.

“Kau tidak salah..” Kata Donghae. “Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, sica…”

***

Beberapa minggu kemudian..

Donghae meminta dokter agar mengizinkannya membawa Jessica pulang. Semakin hari, bukannya keadaan Jessica semakin membaik, malah makin memburuk.

“Pulang..” gumam Jessica dengan suara seraknya kepada Donghae. “Aku benci disini…” katanya kepada suaminya itu.

Dokterpun mengizinkannya, dengan syarat Jessica harus banyak istirahat dan tetap menjalani rawat jalan.

“Nah sica..” kata Donghae, sambil mendorong kursi roda Jessica. “Sekarang kita sudah sampai dirumah!” Donghae berusaha ceria didepan istrinya itu. Jessica sendiri hanya diam, tanpa ekspresi apapun.

Donghae mendorong kursi roda Jessica. Dengan hati-hati ia menggendong istrinya itu menaiki tangga, karena kamar mereka berada di lantai 2. Setelah sampai dikamar, Donghae membaringkan tubuh istinya itu diranjang mereka. “Sekarang, kau harus istirahat dulu, chagi..” kata Donghae sambil menyelimuti Jessica. Donghae mengecup lembut dahi istrinya itu, dan memandang cukup lama wajah istrinya yang sudah terlelap.

“Semua akan baik-baik saja..” bisik Donghae. Ia mengelus kepala Jessica dengan lembut. “Semuanya pasti akan baik-baik saja…”

Percayalah, sica…

***

Jessica terbangun dari tidurnya. Ia merasa terlalu capek hanya untuk mencoba bangkit dan duduk, jadi ia hanya tetap berbaring. Matanya memandang langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Langit-langit kamarnya dengan Donghae…

Jessica mengerjapkan mata, dan menolehkan kepalanya kesamping. Donghae masih terlelap disamping Jessica, sepertinya Donghae sangat kelelahan.

“Maaf..” bisik Jessica sambil terus menatap wajah tidur Donghae. Air mata Jessica pun menetes. “Maaf…” Jessica merasa bersalah, sangat bersalah. Apalagi kepada Donghae. Mereka sudah menanti-nanti mendapatkan anak sejak 5 tahun lalu, tapi ketika Tuhan memberinya anak, dengan cerobohnya Jessica membuat anaknya itu tiada..

Jessica kembali mengingat kejadian itu…

Saat itu ia baru selesai menelepon Donghae. Ia sedang berada disebuah toko khusus peralatan bayi. Sambil menenteng kira-kira 5 kantong belanjaan berisikan peralatan bayinya yang baru dibayarnya, Jessica menoleh kearah sebuah lemari berisikan boneka beruang yang sangat imut, kira-kira ukurannya 50cm.  Jessica sangat suka dengan boneka imut itu. Jessica bertanya kepada pelayan untuk mengambilkan boneka beruang itu, dan segera membelinya.

Jessica berjalan sambil memeluk boneka beruang yang baru dibelinya itu. Dibelakangnya, seorang pelayan pria membantunya membawakan kantung belanjaannya.

“Gamsahamnida..” kata Jessica setelah pelayan itu memasukkan belanjaan Jessica kedalam mobil.

“Uh.. maaf nyonya.. tapi apakah anda menyetir sendiri?” Tanya pelayan itu, sambil memperhatikan kondisi perut Jessica yang besar.

Jessica tersenyum. “Ya, tapi tak apa-apa kok.. terima kasih, ya..” Jessica memberikan pelayan itu uang tip.

“Ah.. baiklah..” Kata pelayan itu. Pelayan itu membantu Jessica masuk kedalam mobil, lalu menutup pintu itu. Ia lalu membungkuk kearah Jessica.

“Ah, baik sekali pelayan itu..” gumam Jessica. Ia mengelus perutnya. “Nah, sayang, saatnya kita pulang!”

Jessica menyalakan mesin mobilnya, lalu segera pergi.

“Uhh.. sabuk pengaman ini sangat mengganggu..” gumam Jessica sambil menyetir. Ia melihat jalanan yang sedang sepi. “Ah, lebih baik kulepaskan saja..”

Jessica melepaskan sabuk pengaman dengan satu tangannya. Ketika sibuk melepaskan sabuk pengaman itu, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan tampak melaju dengan kencang. Jessica kaget dengan mobil itu yang kini kira-kira berada 5 meter didepan mobilnya. Sepertinya pengemudi mobil itu mabuk.

“AAAAAHHHHHHHHHH!!!!” Teriak Jessica. Ia membanting stir mobilnya, dan membelokkannya kearah kanan. Dan…

BRAAKKKKKKK!!!!

mobil Jessica pun dengan kerasnya menghantam pembatas jalan.

Pandangan Jessica langsung gelap seketika.

Lalu setelah ia bangun, ia sudah berada disebuah kamar rumah sakit…

Jessica menggingit bibirnya. Ia merasa bodoh, merasa sangat bodoh dengan perbuatan cerobohnya saat itu.

“Tidak..” gumam Jessica. “Aku tidak mau mengingatnya lagi..” Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dengan perlahan dan sekuat tenaga yang ia miliki, Jessica beranjak bangun dari tempat tidur. Ia menoleh sebentar menatap Donghae yang masih tetap tertidur, lalu dengan pelan ia keluar dari kamar..

***

“Hoamh..”

Donghae menguap. Perlahan, matanya yang tadi terpejam , terbuka. Matanya itu langsung menyipit karena belum terbiasa dengan cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela kamar. Ia menoleh kesamping. Seharusnya disampingnya Jessica ada disitu, masih tertidur. Tapi Jessica tak ada disampingnya.

Sadar Jessica tak ada, Donghae langsung terlonjak bangun.

“Chagi..” Panggil Donghae. “Chagi.. kau dimana?”

Donghae memeriksa kamar mandi, mungkin Jessica berada disana. Namun kosong. Dengan cepat Donghae menuruni tangga dan pergi kearah dapur. Disana ia juga tak menemukan Jessica.

Donghae langsung menjadi cemas. Ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu.

“Jessica? Jessica! Kau dimana?” panggil Donghae. Ia berlari kearah ruang keluarga, ruang tamu, bahkan sampai ke taman belakang, tapi ia juga tak menemukan Jessica. Ia sudah berkeliling kerumahnya yang luas itu, namun tetap tak menemukan Jessica.

Rasa cemas Donghae semakin menjadi-jadi.

Dengan cepat Donghae mencari ponselnya dan menekan nomor telepon ibu Jessica. Dan saat itu juga ia baru sadar ada satu tempat yang belum ia periksa.

Donghae berjalan naik tangga kelantai 2 rumahnya, dan berlari kesisi yang berlawanan dari arah kamarnya dan kamar Jessica.

Donghae sampai disebuah ruangan. Ruangan yang seharusnya akan menjadi kamar anak mereka…

Donghae membuka pintu kamar yang berwarna putih itu. baru satu langkah ia masuk kedalam kamar, ia sudah disambut (?) dengan warna-warna cerah di dinding kamar itu, peralatan bayi yang sangat banyak, lemari penuh boneka, lemari pakaian besar, sebuah ranjang, dan disamping itu terdapat tempat tidur khusus bayi dari kayu yang waktu itu dibelinya bersama Jessica…

Dan Donghae menemukan Jessica tertidur disamping tempat tidur bayi itu, dengan dahi yang disandarkan di kaki tempat tidur itu (?)

“Jessica..” Donghae berjongkok dan menyandarkan kepala Jessica didadanya. “Chagiya.. kenapa tidur disini,?” Tanya Donghae. Ia sedikit merasa lega karena sudah menemukan Jessica.

“Chagiya..” Donghae mengelus pipi Jessica, namun Jessica masih tetap tertidur.

Merasa aneh karena tak direspon Jessica, Donghae mulai menggoyang-goyangkan tubuh Jessica pelan, mencoba membangunkannya.

“Sica.. Jessica.. ayo bangun.. jangan tidur disini..”

“Jessica.. bangun…”

“Jessica… kau tidak apa-apa??”

Rasa panik mulai menjalar disekujur tubuh Donghae. “Jessica..” Donghae menepuk pelan pipi istrinya yang pucat itu.

Walaupun sudah berusaha membangunkan istrinya itu, Jessica tetap tertidur……..

TBC

 

Maaf ya kalo kependekan (?)

soalnya aku lagi sibuk ama ulangan+tugas2 disekolahan >,< *halahh

hope you like it ^^

34 pemikiran pada “Tears (Part 3)

  1. sica unnie tolong jangan menyalahkan dirimu terus y.. q jdi ikutan sedih liat keadaanmu sprti itu
    aduh sica unnie knpa gx bangun”
    semoga tdk terjadi apa” dgn sica unnie
    lanjuutt chingu

We really appreciate your comment ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s