Still Remember You

Halo ^^

Karena Tears part 3-nya masih dalam masa pembuatan (?) aku post ff ini aja buat jadi selingan (?)

ff ini udah lama banget aku buatnya, terus juga udah pernah aku post di blogku juga hehe..

jadi maaf kalo ceritanya agak gaje .__.v

hope you like it :)

Title : Still Remember You

Cast : Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior)

Other cast : Lee Jinki (SHINee)

Author : saranghaesica

***

Apakah kau bisa berjanji untukku?

Berjanji agar kau selalu membuat dirimu bahagia? Tanpa diriku?

***

Seorang gadis berambut pirang menarik koper besar berwarna hitam-nya menuju sebuah pintu kamar lantai dua disebuah rumah yang sepertinya telah ditinggalkan sejak lama. Gadis berusia dua puluh tahunan itu menarik knop pintu dihadapannya yang berwarna pink yang kelihatan lusuh dan masuk kedalam kamar. Kamarnya dulu. Saat ia masih tinggal di Seoul, sampai ia duduk di bangku universitas dan pindah ke New York. Negara asal appa-nya.

Ia menyapu pandangannya keseluruh bagian didalam kamar itu. Memandang jendela besar yang berhubungan langsung dengan beranda, tempatnya dulu untuk menghabisi waktu memandangi bintang. Memandang tempat tidur double bed-nya, yang terdapat meja kecil disampingnya tempat ia meletakkan jam weker yang selalu ia pasang namun tak bisa membantunya untuk bangun pagi ketika ia akan berangkat sekolah dulu. Memandang meja rias, meja belajar, lemari besarnya, sofa merah berukuran sedang yang mengarah keberanda, serta tempelan-tempelan bintang glow in the dark yang sering sekali dibelinya dulu.

Gadis manis itu menarik napas panjang, dan menghembuskannya, lalu ia melangkah dan meletakkan koper besarnya didekat lemari besar yang berdebu itu. Senyum manisnya tak hilang dari bibirnya. “Haaahhh..” desahnya.

Ia melirik kearah tempat tidur double bed-nya lalu berlari dan melompat kekasur. “Huaaaaahhhh kangennyaaaaa” serunya senang.

“Sica ya! Jangan dulu tidur dikasurmu! Banyak debunya!” Seru eomma-nya dari lantai bawah.

“Ne!!” balas Gadis bernama Sica itu. “Uhukk.. uhuk.. huattchiii!!”

Sica menutup mulutnya  karena bersin tadi. Lalu menggosok-gosok hidungnya dengan jari telunjuknya.

Ia tersenyum sebentar, lalu beranjak dari tempat tidur keluar kamar. Ia memanggil eomma-nya.

“Eommaa! Sapu dimana ya? Aku mau bersih-bersih kamar!” serunya. Ternyata perjalanan dari New York ke Seoul menggunakan pesawat tak membuatnya capek ataupun jet lag.

****

“Ya ampun! Banyak banget debunya…” gumam Sica, sambil mengelap permukaan meja belajarnya yang berdebu itu. Tanpa mengganti baju, ia langsung membersihkan kamarnya dengan bersemangat.

Setelah membersihkan meja-meja, mengelap kaca di meja rias, mengganti seprai tempat tidur, menaruh pakaiannya ke dalam lemari, sampai menata ulang buku-buku, lampu belajar, dan pigura-pigura foto yang berada diatas meja belajar, sekarang gadis itu malah mengobrak-abrik isi laci meja belajarnya dan membersihkannya.

“Hm? Apa ini?” gumamnya sambil mengambil sebuah album foto berwarna pink-ungu yang tebal dan lumayan besar itu. Lalu membukanya.

“Ya ampun! Album foto ini…” ujarnya setengah tidak percaya seraya membolak balik isi album foto itu.

“I.. ini…” ia tersenyum, kadang tertawa melihat foto-foto yang ada dalam album foto ini. Fotonya ketika TK, SD, SMP, hingga SMA bersama teman-temannya. Ada beberapa foto ketika ia berwisata kesuatu pulau bersama teman-teman satu sekolahnya waktu SMP, foto-foto perpisahan saat SMA, foto-foto saat ia berulang tahun, foto saat mengerjai atau dikerjain temannya, foto-foto dirinya bersama sahabat-sahabatnya… hingga foto-foto hasil jepretannya saat ia berada disekolah, seperti memotret guru killer saat jam pelajaran dulu (itu dilakukannya secara diam-diam), memotret foto-foto temannya saat bermain psp pada jam pelajaran, tidur, asik baca komik dll. Ada juga beberapa foto saat kejuaraan basket dan foto-foto para cheerleader.

“Kangennya…” serunya berulang-ulang. Ia mengelus sebuah foto bersama sahabat-sahabatnya. Ada Tiffany dan pacarnya hingga sekarang, Siwon. Ada Taeteuk couple yang dulunya adalah kakak kelas mereka yang sekarang telah menikah dan mempunyai 3 anak. Dan juga ada si kembar Yoona Yuri, yang sekarang menjadi orang-orang sukses. Yuri sekarang menekuni pekerjaannya sebagai koki serta pemilik restaurant besar, sedangkan Yoona sekarang telah menjadi aktris yang telah membintangi puluhan film-film laris.

“Mereka telah menjadi orang-orang hebat…” gumamnya.

Ia kembali melihat-lihat isi album foto tersebut hingga habis, dan kembali mengingat kenangan-kenanganya dulu, bersama orang-orang yang ia sayangi, walau didalam album foto itu tak terdapat satu pun foto seseorang yang sangat ia rindukan… Seseorang yang sangat ia cintai…

Ia menyapu air mata disudut matanya yang hampir jatuh. Ia tak boleh bersedih. Karena ia telah berjanji

Pandangan matanya pun jatuh pada sebuah kotak berwarna merah yang tadinya berada dibawah album foto itu.

Jantungnya berdetak kencang, melihat kotak berwarna merah itu.

Ia memindahkan album foto itu keatas tempat tidur, dan dengan perlahan, tangannya terulur dan mengambil kotak merah itu. Sica menelan ludah.

Ia menaruh kotak itu kepangkuannya dan membukanya.

Raut wajahnya berubah. Perasaannya campur aduk sekarang. “Ini…”

Ternyata didalam kotak merah itu terdapat beberapa lembar foto, diary berwarna putih, selembar kertas, dan sebuah handycam yang tak pernah dipakai.

Semua benda-benda itu membuatnya mengingat kenangan-kenangannya dulu, bersama seseorang. Kenangan bersama seseorang yang sangat ia cintai. Kenangan yang membuat perasaannya campur aduk. Dan kenangan-kenangan itu bukanlah kenangan pahit.

Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, tangannya terulur untuk mengambil selembar foto dari dalam kotak itu dan melihatnya.

Foto itu adalah Foto dua buah jari kelingking yang dikaitkan. Dulu Ia sering sekali membuat jari kelingking ketika sedang berjanji kepada seseorang.

***

“Kalau begitu besok aku akan mengajakmu kesuatu tempat yang sangat indah. Aku yakin kau pasti suka,” ujar seorang laki-laki berseragam SMA sambil tersenyum.

Mata Sica berbinar. “Beneran nih?!”

Laki-laki itu tersenyum. “Ne…”

“Serius?!”

“Ne…”

“Janji ya! Janji kelingking! Awas kalau kau bohong!” seru sica lalu menyodorkan jari kelingkingnya.

“Lho, kok pake kelingking segala?” Tanya anak laki-laki itu bingung. Ia tertawa, namun kemudian terdiam melihat wajah Sica yang serius.

“Oke, aku janji,” ujar laki-laki itu sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Sica.

Sica tersenyum lalu diikuti oleh anak laki-laki itu.

“Ah! Sudah bel! Ayo masuk kelas! Nanti pak guru menghukum kalo sampai telat!” Seru Sica sambil berlari kecil.

“Janji kelingking, seperti anak kecil saja..” gumam anak laki-laki itu sambil memandang Sica yang berlarian. Langkah Sica terhenti, lalu menengok kebelakang.

“Hei oppa! Ayo!”

“Ah, ne!”

****

Sica tersenyum mengenang kejadian itu. Karena sejak saat itu, ketika ia sedang berjanji, pasti akan melakukan janji kelingking. Apalagi dengan anak laki-laki itu…

Matanya kemudian melirik kearah kotak itu, melihat lembaran foto lainnya. Fotonya bersama anak laki-laki itu, foto-foto mereka saat tersenyum bersama, tertawa… Oh Tuhan! Sungguh! Ia merindukan kebahagiaannya seperti dulu… seperti yang ia lihat difoto-foto itu…

***

“Aduuuhh… kau mau membawaku kemana, sih?!” omel Sica yang matanya ditutup kain berwarna hitam. Satu tangannya menggenggam tangan seseorang, sedangkan tangannya lagi terulur meraba-raba udara.

“Hehehe, aku ‘kan, sudah janji akan membawamu ke suatu tempat yang indah…” ujar anak lelaki itu.

“Ah, tapi kenapa mataku harus ditutup, sih?!”

“Kan surprise, Sica..” ujar anak laki-laki itu lagi. Ia menuntun Sica kesebuah tempat dengan hati-hati. “Angkat kakimu, hati-hati, ada dua undakan,”

“Ne..”

Setelah beberapa langkah, tibalah mereka ketempat yang dimaksud.

Angin sore menerpa wajah, serta rambut panjang Sica, sehingga rambut pirangnya itu berkibar-kibar layaknya bendera.

“Sekarang, kau boleh membuka penutup matamu…”

Perlahan, ia membuka kain hitam yang tadi menutup matanya, dan melihat apa yang ada didepannya.

Matanya sedikit terbelalak, melihat pemandangan indah yang ada didepannya.

“I.. ini…” gumamnya seakan tidak percaya. “Waaaahhh! Ini indah sekali, oppa! Sangat indah! Bagaimana bisa kau menemukan tempat seperti ini?!” serunya sambil melihat pemandangan matahari yang sudah akan tenggelam. Sinar matahari sore yang kelihatan berwarna emas membuat langit, laut, rumah-rumah, serta gedung pencakar langit kelihatan berkilauan jika terkena sinarnya. Rupanya anak laki-laki itu membawa Sica kesebuah bukit yang cukup tinggi yang bisa membuat kita melihat seluruh tempat yang ada di Seoul dari ketinggian.

“Kau suka?” Tanya anak laki-laki itu.

Sica mengangguk cepat. “Ne! sangat sangat suka! Ini indah sekali, oppa! Seperti lukisan!” serunya lagi lalu merogoh sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebuah kamera.

“Memotret lagi?” Tanya anak laki-laki itu lagi.

“Mm, tentu saja! Aku takkan menyia-nyiakan pemandangan seindah ini!” Sica mendekatkan matanya kearah lensa kameranya dan…

CKLEK!

Cahaya blitz dan suara khas dari kamera mulai beradu. Sica memotret beberapa kali, memotret matahari, langit, burung-burung yang berterbangan, gedung-gedung tinggi, dan sekarang ia sedang memotret anak laki-laki itu yang sedang melamun. Sepertinya ia tak sadar kalau dipotret.

“Hei, oppa, say kimchi!” seru Sica. Anak laki-laki itu menoleh dan.. cklek! Sica berhasil memotretnya.

“Ahahahahaha.. mukamu lucu banget, oppa!” seru sica melihat hasil jepretannya.

“Sica ya! Hapus! Jangan memotret orang sembarangan, ya!” seru anak laki-laki itu, mengejar Sica yang mulai menjauh. Mereka kejar-kejaran disuatu sore yang takkan pernah dilupakan diri mereka masing-masing.

****

“Andai waktu bisa diulang…” gumamnya dengan matanya yang kelihatan menerawang. Tangan kanannya memegang salah satu foto saat ia berada dibukit itu.

Perhatiannya sekarang mengarah pada selembar foto, foto langit berwarna hitam yang dipenuhi bintang.

****

“Ah, langit makin gelap…” gumam Sica. Ia berbaring direrumputan hijau dibukit itu. Disampingnya ada anak laki-laki yang melakukan hal yang sama seperti Sica.

“Tunggu dulu, lihat saja nanti. Akan ada sesuatu yang indah juga yang bisa dilihat dengan jelas disini…” kata anak laki-laki itu. “Nah, coba kau lihat kearah sana,” jari anak laki-laki itu menunjuk kearah langit hitam itu. Pandangan Sica mengikuti jari anak itu.

“Wuaaaaahhhh! Bintang! Banyak banget!” serunya senang. Ia mencoba bangkit, dan kembali mengambil kameranya. “Asyik! Aku mendapat banyak foto-foto bagus hari ini!” gumamnya senang.

Anak laki-laki itu hanya diam sambil memandang Sica yang ada didepannya. Tatapannya punya banyak arti, namun dibibirnya terukir senyum. Apalagi melihat gadis itu tertawa senang seperti itu.

“Memotret lagi…” gumam anak laki-laki itu. “Apa kau suka sekali dengan memotret?”

Gadis itu menoleh kearahnya, lalu menangguk. “Ya! Aku suka sekali memotret! Sangat”

Anak laki-laki itu memiringkan kepalanya. “Kenapa kau suka memotret?” tanyanya bingung.

Sica menoleh lagi kearah anak laki-laki itu, lalu tertawa kecil. “Hei! Tak ada yang lucu!” protes anak laki-laki itu.

Sica yang tadinya berdiri, langsung menjatuhkan dirinya kererumputan. Ia duduk tepat disamping anak laki-laki itu. “Ada tiga alasan yang membuatku suka memotret,” ujarnya sambil memperlihatkan 3 buah jarinya.

Anak laki-laki itu menatapnya dengan alis berkerut.

Sica tak peduli. “Satu, aku suka memotret karena itu memang hobby-ku. Memotret membuatku senang. Ada sesuatu didalam hatiku yang… yah, seperti meluap-luap ketika aku memotret! Haha” jelasnya. “Kedua, aku suka memotret karena… memotret itu seperti membekukan waktu, dan membuatnya menjadi kenangan dilembaran-lembaran foto tersebut,”

Anak laki-laki itu memandang Sica bingung. Ia membuka mulutnya ingin berbicara tapi dipotong Sica.

“Ehm, sebelum kau menanyakannya, akan aku jelaskan.” Ujarnya. “Kau tau? Ketika kita memotret pada suatu keadaan, misalnya ketika kau sedang bermain dengan teman-temanmu, lalu kau potret, kau akan merasa seperti… yang tadi kubilang tadi, kau seperti telah membekukan waktu,” ujar Sica lagi dengan mata menerawang. “Kau akan merasa telah membekukan waktu itu, ketika sedang bermain bersama teman-temanmu. Kau akan merasa kalau kau telah membekukan kenangan yang akan bisa kau simpan dan kau ingat selamanya pada berlembar-lembar foto… Ah! Apa kau bingung dengan penjelasanku? Ah yasudah, lupakan saja, sebenarnya aku juga bingung dengan perkataanku tadi,” Sica menekuk lutunya dan memeluknya.

“Ah! Tidak!” kata anak laki-laki itu cepat. “Aku mengerti… aku bisa mengerti. Dan… alasan ketiga-mu?”

Kali ini Sica yang menatap anak laki-laki itu dengan alis berkerut.

“Alasan ketigamu??” ulang anak itu. “Apa?”

Sica tersenyum. “Yang ketiga… memotret membuatku tersenyum, merasa senang… karena bisa melakukan hobby-ku tanpa ada yang melarang dan bisa membekukan kenangan sebanyak-banyaknya. Hahaha..”

“Yah… memotret membuatku… membuatku… bahagia. Ya, bahagia.” Lanjutnya.

“Bahagia?” ulang anak laki-laki itu.

“Ya, bahagia…” jawab Sica.

Dan untuk beberapa saat, mereka berdua terdiam, tenggelam karena pikiran masing-masing.

“Hei, Sica..” suara anak laki-laki itu memecah keheningan diantara mereka.

“Hm?”

“Mmm… apa saja… apa saja yang bisa membuatmu bahagia?” Tanya anak laki-laki itu sedikit gugup. Sica tersenyum lebar.

“Hmmm apa ya? Banyak!” ujarnya.

“Apa saja?”

“Yang membuatku bahagia… adalah ketika aku melakukan, atau melihat hal-hal yang kusukai. Contohnya, ketika sedang melihat bintang, ketika sedang memotret, ketika musim dingin, ketika hujan turun, ketika makan eskrim, makan cokelat, mengerjai orang… hahaha” Sica tertawa

“Itu saja?” Tanya anak laki-laki itu lagi.

“Ah tentu saja belum! Aku juga bisa sangaaat bahagia ketika sedang bersama orang-orang yang kusayangi… ketika berada bersama orang tuaku, teman-temanku, sahabatku… dan tentunya, juga.. ketika sedang bersamamu… aku juga bahagia,” Sica tersenyum sambil menatap wajah anak laki-laki itu yang kelihatan terkejut.

Untuk beberapa saat, sepertinya anak laki-laki itu menahan napasnya.

Sica juga terlihat gugup. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

“Kau… bahagia saat bersamaku?” Tanya anak laki-laki itu tanpa menoleh kearah Sica. Ia hanya memandang lurus kedepan.

“Ya… aku bahagia. Seperti sekarang,” jawab Sica dengan senyuman. “Aku selalu bahagia ketika mengingat semua kenanganku bersamamu. karena aku menyukaimu, oppa”

Aku juga, Sica… aku juga…

Sica melanjutkan perkataannya “Aku bahagia, karena kau selalu ada disampingku. Kau selalu membuatku tersenyum, tertawa… kau selalu membuatku nyaman berada didekatmu… kau.. kau seperti memberiku kekuatan, jika aku sedang letih. saat aku sedih… kau selalu menghiburku. Itu yang selama ini kau lakukan, ‘kan oppa?”

Selama 2 menit mereka berdua terdiam.

“Sica….” Anak laki-laki itu memanggil namanya. “Apa kau bisa berjanji untukku?”

Alis Sica berkerut, tiba-tiba saja jantungnya kembali berdebar cepat. “Berjanji? Berjanji untuk apa?”

Anak laki-laki itu menoleh, menatap mata Sica dalam-dalam. Seperti mengumpulkan semua keberaniannya, anak laki-laki itu menutup matanya, lalu mendesah. “Apa.. apa kau bisa berjanji untuk membuatmu selalu bahagia?” anak laki-laki itu terlihat pasrah. Pasrah akan segalanya. “Tanpa kenangan tentang diriku?”

Napas Sica tercekat. Ia menatap anak laki-laki itu dengan bingung. “Apa maksudmu, oppa?”

“Ya.. maksudku.. apa kau bisa tetap kuat? Apa kau bisa tetap hidup? Walau… walau tanpa diriku?” anak itu kelihatan bingung dengan ucapannya sendiri. “Maksudku… maksudku… apa kau bisa bahagia tanpaku?”

Sica terlihat bingung. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Aku tak mengerti maksudmu, oppa…” gumamnya pelan. “Bagaimana bisa aku bahagia tanpa orang yang kusayangi?”

Anak laki-laki itu meraih tangan Sica, dan menggenggamnnya seakaan memberi kekuatan. “Suatu saat kau akan mengerti, Sica. Suatu hari nanti kau akan mengerti…”

“…Jadi, berjanjilah padaku, Sica…” anak laki-laki itu menyodorkan jari kelingkingnya. “Janji kelingking!”

Sica hanya bisa diam memandang jari kelingking yang disodorkan kepadanya. Ia terlihat bimbang, bingung, dan… takut. “Aku tak mau, oppa.”

“Aku… aku tak ingin janji kelingking,” ujarnya.

“…Tapi aku berjanji, akan.. akan berusaha membahagiakan diriku… tanpamu…” suara Sica terdengar pelan. Suaranya bergetar, ia menangis. “Kau juga harus berjanji untuk membuatmu bahagia oppa… tanpa diriku…”

Melihat Sica yang menangis seperti itu, hati anak laki-laki itu seakan dihantam sesuatu yang membuatnya hancur. Maafkan aku, Sica… maafkan aku…

“Tapi… tapi kenapa aku harus begitu? Kenapa aku harus berjanji padamu?” suara Sica menjadi serak. Air matanya terus mengalir.

Anak itu ingin sekali menjawab pertanyaan Sica. Tapi mulutnya seakan terkunci. Anak itu mengulurkan tangannya dan membawa Sica dalam pelukannya. Sica pun menangis terisak.

Aku yang salah, Sica… maafkan aku… maafkan aku…

“Sica…” anak itu melepaskan pelukannya. Ibu jarinya bergerak, menghapus air mata dipipi Sica. “Saranghaeyo…” kata yang singkat dan sederhana, namun sepertinya sangat sulit untuk diucapkan anak itu sejak dulu. Ia terlalu takut… terlalu takut untuk mengatakannya… ia takut pada akhirnya gadis didepannya inilah yang akan sedih…

Suara anak laki-laki itu terdengar pelan dan serak ditelinga Sica, namun mampu membuatnya hampir lupa bagimana cara bernapas.

“Naddo… naddo saranghaeyo, oppa…” jawabnya.

Mereka pun kembali berpelukan. Walau salah satu dari mereka terlalu takut untuk melakukannya. Terlalu takut untuk nantinya akan melepaskannya…

*****

Sica menunduk. Satu tangannya memegang dadanya yang terasa sesak. Semua kenangan-kenangan itu membuat perasaannya campur aduk.

Air matanya kembali menyeruak. Dan ia membiarkannya.

“Oppa babo…” gumamnya ditengah isakannya.

Kini ia mengerti. Kini ia sangat mengerti apa yang dimaksudkan anak laki-laki itu… ia sangat mengerti…

Pandangannya yang kabur karena air mata melirik kearah kotak merah itu. Ia mengambil secarik kertas yang tulisannya telah sedikit luntur karena dulu terus-terusan terkena air mata. Namun untungnya masih bisa dibaca.

                                                                              Seoul, 02 february 2007

 

Hai My Pretty Sica,

Mungkin, saat kau membaca surat ini, aku sudah tak ada didunia ini.

Aku sudah pergi jauh… ketempat yang takkan pernah bisa kau jangkau..

Aku sudah pergi ke surga…

 

Bagaimanapun juga, kau tak boleh bersedih.

Kau tak boleh menangis. Karena kau telah berjanji padaku, bukan?

Tapi, mungkin untuk kali ini aku akan mengijinkanmu menangis.

Karena aku, dengan bodohnya, juga menangis saat menulis surat ini…

Aku bodoh sekali, kan?

 

Sica…

Maafkan aku…

Aku yang salah, Sica… seharusnya aku tak begini…

Seharusnya aku tak mencintaimu…

Seharusnya aku tak begitu…

Karena itu semua hanya akan membuatmu lah yang sedih…

Aku bingung…

Aku sangat bingung, Sica…

Aku ingin sekali terus bersamamu…

Tapi aku tak bisa…

Penyakit ini tak bisa membuatku bertahan hidup, Sica…

Maafkan aku…

Maafkan aku…

Maafkan aku, sudah tak bisa bersamamu…

Maafkan aku, sudah tak bisa ada disampingmu…

Maafkan aku, sudah tak bisa memberimu kekuatan…

Maafkan aku, sudah tak bisa membahagiakanmu…

 

Maafkan aku, karena pasti telah membuatmu sedih…

Membuatmu marah…

Membuatmu kecewa…

Aku tahu, Sica… aku yang salah…

Tapi kau harus tahu Sica…

Sampai kapanpun… sampai kapanpun,

Aku akan tetap mencintaimu…

Saranghaeyo Sica…

Jeongmal Saranghaeyo, My Ice Princess…

                                                                            -Lee Donghae-

 

Tangan Sica bergetar saat kembali membaca surat itu, surat yang ditunjukan untuknya, dari seseorang yang sangat ia cintai. Seseorang bernama Lee Donghae…

Lee Donghae..

Mungkin Sica sudah hampir lupa bagaimana caranya berjalan… bagaimana suaranya….

Tapi wajahnya, senyumnya, tak pernah ia lupakan.

Walau ia sudah berusaha membuangnya jauh-jauh…

Tapi ia tak bisa… benar-benar tak bisa.

Lee Donghae…

Sosok yang benar-benar ia rindukan…

Sica menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menaruh kertas itu ke dalam kotak merah itu lagi.

Kini tangannya meraih sebuah handycam yang dulunya tak pernah dipakai sedikitpun. Itu adalah hadiah yang diberikan Donghae saat ulang tahunnya. Tapi sayang, bukan Donghae lah yang memberikannya sendiri. Tapi Lee Jinki, teman sekelas Sica dan sekaligus sepupu Donghae. Jinki menyerahkan hadiah itu bersamaan dengan surat yang ditulis Donghae tadi.

Sica menyalakan laptopnya, dan menyambungkan kabel handycam ke port USB laptopnya. Sejak menerima handycam itu plus surat Donghae, Sica tak pernah menyentuh handycam itu. Ia pikir handycam ini kosong. Belum ada isinya. Namun ternyata ia salah. Ternyata di dalam handycam ini banyak sekali foto-foto dirinya. Tapi siapa yang memotretnya?

Ia melihat banyak sekali foto-foto dirinya. Sepertinya Donghae yang memotretnya ketika ia tidak sadar.

Ada fotonya saat melamun, cemberut, tertawa, tersenyum… Foto saat ia sedang mengotak-atik kameranya, foto saat ia sedang membidik sasaran untuk dipotret… masih banyak lagi.

Benar-benar sangat banyak.

Sica menemukan satu foto yang mampu membuat napasnya tercekat. Foto dirinya dan Donghae yang tersenyum lebar kearah kamera…

Itu fotonya saat di bukit dulu…

Satu tangan Sica menutup mulutnya, menahan tangis. Ia kembali melihat foto itu. Difoto itu dia kelihatan sangat bahagia… seperti tak ada beban…

Begitu juga dengan Donghae. Difoto itu dia tersenyum lebar, terlihat begitu bahagia… satu tangannya merangkul bahu Sica dan satu tangan lain membentuk huruf ‘V’.

“Oppa…” bisik Sica.

Sica melihat sebuah video yang ternyata ada didalam handycam itu. Dan ia membukanya.

Sica menerjap kaget melihat gambar yang muncul di layar laptopnya. Itu adalah tempat yang sangat dikenalnya… itu adalah bukit yang dulu sering dikunjunginya bersama Donghae…

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenal Sica. Suara yang sangat dirindukannya. “Hi Sica…” pemandangan yang tadinya adalah pemandangan langit sore yang berwarna keemasan berganti.  Mata Sica melebar melihat wajah seseorang yang sekarang memenuhi layar laptopnya. Ia sampai tidak bernapas melihat orang yang dirindukannya tersenyum padanya, dari layar laptopnya itu.

“Hai, Sica…” sapa Donghae kearah kamera. Ia tersenyum tipis. Wajahnya pucat sekali. Ia juga sepertinya saat itu sedang mengenakan pakaian Rumah Sakit.

“Apa kabarmu? Aku yakin kau baik-baik saja… dan jangan Tanya bagaimana denganku!” serunya lagi. Ia mendesah. “Aku sangat ingin sekali bertemu denganmu…”

Sica tersenyum getir. Perasaannya begitu senang dan tentunya kaget melihat wajah Donghae, mendengar suaranya… Ia terus menangis, menatap layar laptopnya yang dipenuhi oleh wajah Donghae.

“Bagaimana ini? Aku sudah lama tak bertemu denganmu… aku mungkin hampir lupa wajahmu… matamu… rambutmu… senyumanmu… suaramu…” donghae kembali tersenyum. “Untung saja aku selalu diam-diam memotretmu. Jadi jika aku sedang merindukanmu, aku tinggal melihat foto-foto mu, hehehe”

“…Sayang, aku hanya punya fotomu. Bodohnya aku dulu tidak merekam suara anak kecilmu itu. Aku ingin sekali mendengar suaramu…” mata donghae terlihat menerawang. Membuat jantung sica berdebar-debar cepat.

“Ah, sudahlah. Melihat fotomu saja sudah cukup, kok.” Kata Donghae. “Hm… aku mau bilang apa lagi, ya? Aku lupa.” Wajah Donghae terlihat sedang berpikir. “Hah~ saking banyaknya yang ingin kukatakan padamu, aku sampai lupa…”

“Oke, karena sangat banyak dan aku bingung bagaimana mau memulainya, aku akan bilang sekarang bahwa…” donghae terdiam sebentar. Ia meraik napas dan kembali melanjutkan.

“…Bahwa seorang Lee Donghae begitu merindukan Jessica Jung…”

“Seorang Lee Donghae benar-benar ingin bertemu seseorang bernama Jessica Jung, dan…”

“Seorang Lee Donghae benar-benar mencintai gadis barbie bernama Jessica Jung.”

Kalimat-kalimat yang diucapkan Donghae sepertinya membuat jantung Sica berhenti berdetak.

“Bagaimana tidak?” desah Donghae “Gadis itu benar-benar membuat Lee Donghae gila sekarang.”

Donghae tertawa kecil. “Aku jadi ingat, saat pertama kita bertemu… dulu kita sering sekali berantem, kan?”

Sica tersenyum kecut. “Ya oppa, aku ingat. Sangat ingat…”

“Setiap bertemu, pasti kita selalu adu mulut. Walau itu akhirnya membuat kita menjadi dekat… hahaha… aneh ya?” Donghae kembali tertawa. “Aku jadi merasa bersyukur dulu dengan tidak sengaja melempar bola basket kearahmu. Kalau aku tak melakukannya, pasti aku tak akan bisa mengenalmu lebih dekat… jika aku tak melakukannya, kau pasti tidak akan memarahiku karena telah melempar bola kearahmu… dan dari situ kita mungkin takkan bisa saling kenal. Walau kita sekelas…”

Sica terus tersenyum. Memandang layar laptopnya. Pandangannya tak beralih dari layar laptopnya. Benar-benar tak beralih.

“Hei… lihat disana, Sica! Matahari benar-benar akan tenggelam!” donghae menyorot matahari sore. “indah, bukan?” tanyanya.

“Ya….” Gumam Sica nyaris tak terdengar.

“Haa… sedikit lagi langit akan gelap! Aku benar-benar harus pergi sekarang. Nanti dokter memarahiku karena keluyuran tanpa ijin. Aku kesal selalu dimarahi oleh dokter, padahal aku bukan anaknya, kan?” kata Donghae, cemberut. Terlihat seperti anak kecil. “Oh ya, Sica… tentang janji yang kubilang dibukit ini…”

Sica menahan napas mendengar lanjutan kalimat Donghae.

“Akan kuralat sedikit…” Donghae mengangkat bahu. “Mau kah kau berjanji pada ku, Sica? Untuk selalu mengingat namaku dihatimu?” Donghae memiringkan kepala. Betul-betul kebiasaannya yang tak pernah hilang.

“Hahaha.. lebay ya?” Donghae kembali meluruskan kepalanya. Mimiknya terlihat serius. “Oh… hm, satu lagi. Pertanyaanku. Apa kau bisa membuatmu bahagia saat mengingatku? Apa kau bersedia untuk tidak menangis saat mengingatku? Aku tak ingin ketika kau mengingatku, itu malah membuatmu sedih. Membuatmu menangis. Sungguh, aku akan sedih sekali jika itu terjadi.”

Sica mengelap air matanya dengan punggung tangannya cepat-cepat. Ia tersenyum pada layar. “Aku akan berhenti menangis, oppa. Aku akan berhenti bersedih. Aku janji oppa. Aku janji.”

“Aku harap kau akan melakukannya, Sica…” ujar Donghae lembut. “Oh ya! Carilah pacar yang lebih baik dariku ya! Yang lebih tampan dariku! Hahaha” tangan donghae membentuk huruf ‘V’. “Aku tau.. aku tau.. dimata mu pria tertampan didunia ini adalah aku. Iya kan? Jangan mengelak ya!” ujarnya.

Sica tertawa kecil. Walau dadanya merasa sangat nyeri.

“Oke, aku benar-benar harus pergi sekarang. Langit sudah benar-benar gelap.” Kepala donghae mengadah sedikit kearah langit.

“Uh, mungkin ini yang bisa dibilang sebagai ‘kalimat terakhir yang ingin diucapkan’. Ehem.” Donghae berdeham.

“Sica… even if I’m not by your side, I’ll always be the person who loves you the most… Saranghaeyo Sica… I love you…” kata-kata Donghae terdengar halus di telinga Sica. Ia tak mampu lagi menahan air mata. Ia kembali menangis.

“Goodbye Sica, saranghae~” Donghae tersenyum, senyuman untuk terakhir kalinya, sambil mengoyang-goyangkan satu tangannya.

Wajah Donghae pun menghilang dari layar laptopnya. Video itu telah berakhir.

Sica menangis terisak. Kembali menangis terisak.

“Oppa…” gumamnya lirih. “Jangan marah, oppa… ini tangisan bahagia… aku senang mendengar suaramu… melihat senyummu… mengingat dirimu… Naddo saranghaeyo, Oppa…”

***

“Jadi… apa kau bisa mengantarku kesana? Aku agak lupa jalannya… please, Jinki-ssi, aku mohon…” pinta Sica. Ponselnya yang tadinya berada ditelinga kanan ia pindahkan ketelinga kiri. Ia sedang menelepon Jinki, sepupu Donghae untuk mengantarkannya ke pemakaman Donghae.

“…Apa?! Kau mau mengantarkanku?! Terima kasih, Jinki-ssi! Terima kasih!” seru Sica senang. “Ya, aku akan menunggumu didepan rumahku. Cepat ya!”

Klik. Sica mengakhiri teleponnya itu.

Sica langsung menyambar tas kecilnya, memasukkan dompet dan ponsel, lalu segera turun kebawah.

Dua puluh menit kemudian, Jinki datang dengan mobil merahnya. Ia mengklakson Sica yang tertidur dikursi teras rumahnya.

“Ah! Jinki-ssi! Akhirnya kau datang juga!” kata Sica. “Eomma! Aku pergi dulu, ya!” tanpa mendengar jawaban, Sica langsung beranjak menuju mobil Jinki.

“Maaf, lama ya?” Tanya Jinki sambil menyetir. Pandangannya tetap lurus kedepan.

Sica menggoyang-goyangkan tangannya. “Ah! Tidak! Tidak! Tak masalah… seharusnya aku yang minta maaf karena memintamu menemaniku… Kau sibuk, ya?”

Jinki menerjapkan mata. “Eee, tidak! Tidak! Tentu saja tidak… aku tidak sibuk, kok, semua artikel ku sudah selesai.” Jinki sekarang bekerja disalah satu perusahaan penerbit majalah dan Koran, ia menjadi jurnalis disana. Ia juga sekarang telah menulis beberapa buku yang best seller.

“Oh iya…” sica mengalihkan pembicaraan. “Aku sudah membaca salah satu bukumu! Saat kau menjadi relawan disalah satu Negara yang waktu itu terkena bencana? Kau hebat Jinki-ssi! Aku sangat kagum padamu!” seru sica dengan mata berbinar. Wajah Jinki memerah.

“Eh, uh.. tidak kok, biasa saja…” ujarnya tersenyum malu.

Sica juga tersenyum kepadanya. Membuat jantung Jinki tanpa sadar berdetak lebih cepat.

“Eh, ke toko bunga dulu, ya? Aku ingin membeli bunga!”

Setelah ke toko bunga, mereka pun sampai ke salah satu tempat pemakaman.

“Nah, sampai,” kata Jinki, memberhentikan mobilnya. Jinki langsung turun  dari mobil, begitu juga Sica. Mereka berjalan menyusuri lahan sempit tersebut.

Langkah mereka berhenti pada sebuah batu nisan.

Sica berlutut didepan batu nisan itu. Ia meletakkan bunga yang tadi dibelinya.

Cukup lama Sica hanya terdiam, memandang batu nisan itu dengan tatapan kosong.

Jinki sendiri hanya berdiri dibelakang Sica, memandang punggung gadis itu, sedih.

Tapi tiba-tiba, Jinki mendengar Sica berkata. Hanya 3 kalimat.

Namun dengan 3 kalimat itu, membuat Jinki merasa sedikit lega.

“Oppa… aku merindukanmu,” gumam Sica, matanya tak beralih dari batu nisan itu. “Aku akan bahagia, oppa, Aku janji.”

Mata Sica mengeluarkan butiran-butiran air mata. Tapi bibirnya membentuk senyum. “Terima kasih, oppa… untuk semuanya.”

Sica berdiri . ia mengulurkan tangannya, menyentuh batu nisan itu. Air matanya tak berhenti, begitu juga dengan senyumnya.

Sica mengecup batu nisan itu pelan. Memandangnya sebentar, lalu menoleh kearah Jinki.

“Jinki-ssi, ayo kita pulang,” katanya. Senyumnya tak hilang dari bibirnya.

Jinki juga membalasnya dengan senyum.

“Ayo”

****

Oppa, sampai sekarang aku terus mengingatmu…

Mengingat wajahmu… senyummu…

Aku berjanji, Oppa.. aku akan bahagia!

Dan aku harap kau juga akan bahagia disana, oppa…

Saranghaeyo…

***

 

Gimana? kepanjangan ya? >,< hehe

32 pemikiran pada “Still Remember You

  1. hwa hiks hiks hiks banjir nih gara-gara ga bisa berhenti nangis T_T
    kasian sica eonnie ditinggal haeppa untuk selamanya
    ffnya bisa membuat orang tersentuh nih

  2. Sumpahhhh!! Daebakk!!
    Aku gak tau puasaku batal apa gak gara-gara nangis baca ff ini!
    Author DAEBAK!! Kalimatnya rapiiii tanpa typo. Ahhh, aku kira hae masih hidup. Ternyata udah meninggal. Daaaaan aku suka ide ceritanya. Keren dah pokoknya.

  3. Jdi Sedih saat tau klo ternyata Donghae udah meninggal…… Siapapun yang berada dposisi sica pasti bakal nyesekk deh, nangis… Hmm, Goodbye Donghae oppa…

    Nice ff chingu…

  4. Ini sedih bgt authoorrr~~~
    aku nangis ga brenti2, tp ff ini jd salah satu ff favoritku ^__^ *gananya
    sedihnya ngena banget… GREAT JOB :))

  5. Huah aku nangis terus nih :'( mana aku bacanya sambil dengerin lagunya Henry feat Taemin Shinee and Kyu SJ bikin tambah sdh :(

    Aku seneg ceritanya dan aku berharap lebih banyak lagi ff HAESICA AMIN !!!

  6. Huah aku nangis terus nih :’( mana aku bacanya sambil dengerin lagunya Henry feat Taemin Shinee and Kyu SJ Trap bikin tambah sdh :(Aku seneg ceritanya dan aku berharap lebih banyak lagi ff HAESICA AMIN !!!

We really appreciate your comment ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s