he’s not my brother (oneshoot)

ff ini adalah FF nae chingu : Uzie Sunny Yesung HaeSica
ok check this out!!!!!

Cast :

– SNSD Jessica as Lee Sooyeon

– Super Junior Donghae as Lee Donghae

– SHINee Onew as Lee Jinki

– Tiffany as Hwang Mi Young

– Sunny as Lee SoonKyu

(Baby Love’y aq Post besok or lusa ya! bru pngn diselesaiin…)

===He’s not My Brother===

“Oppa~” pekik Sooyeon saat melihat oppanya datang. Dia segera berlari menghampiri oppanya tersebut dan memeluknya dengan erat.

“Ya~ kau tak ingin aku mati, kan?” tanya oppanya.

Sooyeon menggeleng, “Wae?” tanyanya.

“Pelukanmu membuatku sesak,” ringisnya.

Sooyeon langsung melepaskan pelukannya dan menggigit jarinya. Wajahnya memancarkan rasa bersalah. “Mian,” desahnya pelan.

“Bogoshipo~” bisik Donghae –oppanya sambil mengecup kening Sooyeon dan tidak menghiraukan kata penyesalan Sooyeon.

“Oppa, kau tidak tumbuh, ya? Selalu pendek,” cibir Sooyeon tiba-tiba sambil mengulas senyum jahil.

“Ya! Apa maksudmu? Setidaknya aku tetap lebih tinggi darimu, agassi..” balas Donghae dengan suara dalam.

“Tinggiku ini tinggi rata-rata untuk yeoja. Sedangkan kau, kau itu pendek. Atau jangan-jangan kau punya rencana untuk berganti kelamin menjadi yeoja, ya?”

Donghae menggeram, “Ya, Lee Sooyeon!”

Sooyeon segera berlari meninggalkan Donghae.

>>>

“Oppamu sudah kembali dari luar negeri, ya?” seru Mi Young dan SoonKyu bersemangat.

Sooyeon mengerjap sesaat lalu mendongak –menatap sahabatnya dan mengangguk. “Ye. Wae?” sahutnya.

Dia kembali merapikan buku perpustakaan yang sudah selesai ia baca. Sesungguhnya ia ingin tidur dengan cara membaca buku pelajaran karena buku pelajaran adalah obat tidur yang paling ampuh. 1 menit baca, pulas 5 jam. Namun anehnya hari itu dia malah tertarik dengan pelajaran itu dan bahkan mengerjakan beberapa soal.

“Oppamu masih imut atau malah jadi tampan sekarang?” tanya SunKyu.

Sooyeon mendesah, “Kau sudah punya Sungmi.”

“Tak ada hubungannya dengan Sungmin, Soo~ jangan mengalihkan pembicaraan,” kesal Mi Young.

“Kau juga sudah punya Siwon sunbae. Berhenti mencari tahu tentang oppaku,” desis Sooyeon sinis. Ia paling tidak suka oppanya disukai oleh orang lain. Karena baginya Donghae adalah miliknya. Sayang tak ada yang tahu tentang peraturan itu kecuali ia dan Donghae.

“Kau pelit~” umpat SoonKyu.

Mi Young melirik SoonKyu lalu menatap memohon pada Sooyeon. “Ayolah~ aku tak ada hubungan dengan Changsun sunbae. Lagian apa salahnya jika aku jadi calon kakak iparmu?” ucap Mi Young dengan wajah polosnya.

BRAK!

“Sudah ku bilang berhenti mencari tahu tentang oppaku! Kalian sudah tahu aku paling tidak suka ada seorang yeoja pun yang dekat dengannya!” kesal Sooyeon lalu pergi keluar perpustakaan.

“Shhh..” protes beberapa orang yang mengSoonKyup ketenangan di perpustakaan itu. Mi Young dan SoonKyu hanya saling bertukar pandang.

Sooyeon pov.

Ah bodohnya kau, Lee Sooyeon.. pasti sahabat-sahabatmu kebingungan dengan kelakuanku. Lagian memang bukan salah mereka juga. Mereka memang pantas penasaran dengan oppaku. Banyak orang yang bilang oppaku tampan, imut, manis dan lainnya. Banyak yang menyukainya. Tapi sayang mereka belum pernah bertemu dengan oppa. Tentu saja. Aku baru saja bertemu dengan mereka hampir setahun yang lalu sedangkan oppa sudah pindah keluar negeri sekitar 3 tahun yang lalu.

Aku memutuskan untuk ke kantin karena tempatku di kampus ini hanya 3. Kelas, perpustakaan—untuk tidur—, dan kantin.

Canteen.

“Sooyeon~” seru seseorang sambil menepuk pundakku hingga aku terlonjak kaget.

“Jinki!!” kesalku. Siapa lagi pemilik suara yang menyebalkan itu selain Jinki, eh?

“Ya, jangan marah padaku. Harusnya kau meneraktirku untuk merayakan kepulangan’nya’,” serunya cepat.

“Kau tahu? Siapa yang memberitahumu?” tanyaku bingung.

“Aku sepupu kalian, Soo,” jelasnya.

Aku menyeruput ice lemon teaku lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya. “Perasaanku belum hilang rupanya.”

Aku bisa merasakan ada tangan yang membelai rambutku lembut. “Uljima. Sooyeon-ah~ hwaiting!” bisiknya. Aku tersenyum mendengarnya.

Yup, hanya dia yang tahu rahasiaku karena selain dia adalah sepupuku, dia juga sahabatku. Kami sudah bersama sejak kami masih bayi. Tentu saja kami sudah saling mengerti dan seperti memiliki hubungan batin.

“Pokoknya kau wajib traktir aku!” serunya tiba-tiba sambil mengepalkan tangannya ke udara.

Aku menarik kepalaku lalu menyentil keningnya gemas.

Author pov.

“Donghae-ah~” pekik teman-temannya saat melihat sahabat lama mereka menampakkan diri di café tersebut.

“Annyeong,” sapanya.

“Kau tambah chubby. Kelinci kecilku~” seru Jungsoo.

“Hyung~” desah Donghae malas.

“Ok..” balas semuanya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah bebas?” celetuk Eunhyuk tiba-tiba.

Donghae terdiam dan mengerjap perlahan. Tak lama dia mengangkat bahunya. “Tak yakin,” jawabnya pelan.

Heechul dan Siwon bangkit dari duduknya lalu menghampiri Donghae. Mereka menepuk bahu Donghae.

“Ya~ kau kira aku kenapa?” tanya Donghae jengkel.

“Aku hanya tak ingin kelinciku sedih,” jawab Heechul polos.

“Lebih baik kalian mengurus anak kecil kalian; Kyuhyun dan Yesung,” cibir Donghae. Semuanya segera melirik orang yang dimaksud.

“Ya!” protes mereka berdua. Mungkin beberapa orang ingin sekali diperhatikan oleh sekumpulan orang itu. Tapi jika sudah kenal, kalian akan selalu berusaha terhindar dari hal yang fatal itu.

>>>

“Oppa~ ajari aku.. ajari aku..” pekik Sooyeon sembari berlari kecil menghampiri Donghae yang baru pulang.

Donghae menutup telinganya karena suara Sooyeon sangatlah berisik. Saat Sooyeon sudah sampai di depan Donghae, Donghae langsung menyumpalnya dengan tangannya.

“Mmbbbhh..” Jessica berusaha melepaskan tangan Donghae dari mulutnya. “Ya, oppa!” protesnya saat ia berhasil dalam sedetik terlepas dari tangan Donghae.

Tujuan pertama ia menutup mulut Sooyeon hanya agar adiknya itu berhenti berteriak namun sekarang niatnya hanya utnuk mengerjainya. Sooyeon terus menerus menarik tangan Donghae agar melepaskan mulutnya. Akhirnya Sooyeon menahan tangan Donghae dengan menariknya hingga sangat ke bawah. Itu menyebabkan tubuh Donghae tertarik ke bawah.

DEG! Jantung Sooyeon dan Donghae sama-sama berdetak dengan cepat. Nafas mereka tak teratur. Itu semua karena wajah mereka sangat dekat. Donghae segera mengalihkan pandangannya saat ia tersadar.

“Jadi.. apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Donghae tanpa menatap Sooyeon. Ia merasa sangat takut untuk menatap gadis yang sedang memancarkan ekspresi kekecewaan sekarang.

“Bukunya ada di kamarku,” jawab Sooyeon pelan.

>>>

“Oppa di tugaskan oleh appa ke Jeju untuk bertemu dengan client. Appa kejam~” gerutu Donghae sambil menonton sebuah film di kamar Sooyeon.

“Ye, appa kejam. Kita baru saja bertemu selama 1 minggu tapi sudah mau dipisahin lagi aja sama appa,” timpal Sooyeon dengan tatapan fokus ke tv.

Donghae meliriknya sekilas dan tersenyum tipis, “Kau takut kehilanganku lagi, ya?”

Sooyeon menoleh lalu memeluk Donghae. “Sangat takut,” jawab Sooyeon pelan namun dalam.

Donghae tertegun mendengarnya. Lalu dia tertawa kosong, “Tentu saja. Mana bisa kau hidup tanpa oppamu ini, kan?”

Sooyeon langsung melepaskan pelukannya dan pura-pura sibuk menonton filmnya kembali sambil memeluk kakinya. “Kau begitu narsis, oppa..”

“Tapi benar, kan?” goda Donghae.

“Aku lebih tak bisa hidup tanpa orang yang ku cinta,” bantah Sooyeon cepat.

“Jadi.. kau sedang jatuh cinta dengan orang lain?” tanya Donghae yang sekilas terdengar lirih.

“Tentu saja! Aku kan sudah dewasa sekarang, oppa~” jawab Sooyeon ceria sambil melirik Donghae.

“Ah, ye… nuguya?” tanya Donghae dengan suara jahilnya lagi.

“Kau tak perlu tahu,” balas Sooyeon dingin.

“Ah Yeonnie~ marhae,” rengek Donghae dengan suara anak kecilnya.

“S-H-I-R-E-O,” tolak Sooyeon sambil mengeja katanya dan menggelengkan kepala perlahan.

“Sooyeon-ah~” rengek Donghae.

“Kalau kau tahu, ku takut kau akan menjauh dariku, oppa,” lirih Sooyeon.

“Tak akan~ yaksok!” seru Donghae dengan wajah kekanakannya.

Sooyeon hanya menggelengkan kepala. “Sudah ku bilang aku tak mau kehilangan oppa.”

“Marhae~” kali ini Donghae memakai suara memaksa sambil mengelitiki Sooyeon.

“Ya, oppa~” protes Sooyeon di sela tawanya.

Sooyeon segera bangkit namun ditahan oleh Donghae. Donghae menariknya hingga ia terjatuh lalu Donghae menindihnya untuk menguncinya.

“Makanya kata..” ucapan Donghae terpotong saat ia tersadar posisinya sekarang. Mati kau, Lee Donghae!

Sooyeon mengerjap, “O-oppa..”

Donghae malah mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sooyeon. Seakan tersihir, Sooyeon yang tadinya ingin memberontak malah membalasnya. Sesaat kemudian lidah Donghae sudah hampir masuk ke dalam mulut Sooyeon namun ia segera tersadar.

Dia segera bangkit dan mendesis, “Dammit!”

Sooyeon langsung ikut tersadar dan menutup bibirnya dengan kedua tangannya. “Stupid me!” runtuknya dalam hati.

Donghae segera berlari keluar kamar sedangkan Sooyeon sibuk dengan pikirannya. Kau bodoh!, umpat mereka pada diri mereka sendiri dalam waktu yang bersamaan.

>>>

“Lidahmu sempat bersentuhan dengan lidahnya? Mungkin dia sudah terlatih, Min~” bisik Jungsoo setelah Donghae menceritakan malam itu. Donghae hanya berani membicarakannya pada Jungsoo. Kalau dengan yang lain, adanya mereka akan berlomba untuk memberitahu Sooyeon.

“Apa maksudmu, hyung?” tanya Donghae tak mengerti.

“Maksudku, dari ceritamu aku bisa menyimpulkan bahwa itu bukanlah ciumannya yang pertama kali. Mungkin dia pertama melakukannya sebelumnya. Kalau itu yang pertama, …”

“Stop!” teriak Donghae frustasi.

“Aku tahu kau pasti tak bisa terima kenyataan itu, kan? Mungkin selama kau pergi, dia melakukannya dengan pacarnya,” ujar Jungsoo.

Donghae melirik tajam sahabatnya itu, “Bisakah kau diam, hyung?”

Jungsoo langsung kikuk. Dia segera melirik jam tangannya. “Ah aku lupa kalau aku ada janji dengan Song Qian. Annyeonghi gyeseyo.” Jungsoo segera bangkit dan berlari pergi.

Donghae mengerjap melihat kepergian Jungsoo. “Dia memang orang paling sopan,” gumamnya dengan wajah polosnya.

Tiba-tiba terdengar tawa dari belakang Donghae. Donghae langsung menggerutu kesal. Bagaimana 2 orang yang paling tidak ia inginkan kemunculannya, malah muncul dari balik pohon belakang kursi taman yang di duduki oleh Donghae? Akh! Rasanya ia ingin membeli lakban super lengket yang takkan bisa dilepas sampai kapanpun untuk mulut dua orang itu.

“Jadi.. waw~” seru Yesung sambil melirik jahil ke Kyuhyun lalu Donghae.

“Waw~ berita yang sangat panas,” tambah Kyuhyun.

“Sangat amat panas,” timpal Yesung.

“Apa yang kalian inginkan? Asal bisa menjadi pengganti lakban untuk mulut kalian,” desis Donghae malas.

“Cukup katakan, hyung! Kalau dia membalas berarti dia juga merasakan hal yang sama,” celetuk Kyuhyun.

“Yup, marhae.. marhae, Hae~” setuju Yesung.

“Asal jangan itu,” lirih Donghae.

“Waktumu kurang dari 4 hari lagi, Min. Setelah itu takkan ada kesempatanmu untuk bertemu dengannya,” jelas Kyuhyun gemas.

“Itu malah mauku. Terlepas darinya,” sahut Donghae.

“Ah~ jadi kau pindah keluar negeri itu untuk menghindarnya? Begitu? Kau bodoh, Lee Donghae!” kesal Yesung.

“Aku tahu kalau kau pindah keluar negeri untuk melupakan seseorang. Tapi aku tak menyangka kalau orang itu adalah Sooyeon,” gumam Kyuhyun.

“Kau tau ini perasaan terlarang. Aku dan dia kakak beradik,” balas Donghae datar.

“Tak ku sangka hyung kesayanganku malah jadi hyung terpayah,” cibir Kyuhyun.

“Aku tak peduli,” balas Donghae masih dengan suara tenang.

“Yo, HaeYeon or HaeSica! Go, go, go, hwaiting~” entah mengapa sorakan itu terdengar seperti sebuah rap jika yang menyorakannya adalah seorang Lee Hyukjae.

“Donghae-Sooyeon atau Donghae-Jessica maksudmu?” tanya Donghae.

“Mungkin. Aku hanya menyoraki saja,” jawab Eunhyuk polos. Dengan cepat, 1 jitakan dari tangan Kyuhyun bersarang di kepalanya.

“Apheo, Kyu,” ringis Eunhyuk sembari mengelus kepalanya.

“Kau sih terlalu bodoh, Hyuk,” bela Kyuhyun.

“Mwo? Apa kau bilang? Bodoh begini pun, aku tetap lebih tua darimu!”

“Tua saja bangga.”

“Apa maksudmu, Cho Kyuhyun? Ya! Jugullae?”

Donghae menggelengkan kepala frustasi melihatnya.

>>>

“Jinjjayo?” Jinki membulatkan matanya. “Benarkah kau dan dia… mbb” Sooyeon segera membekap mulutnya karena takut seseorang mendengarnya.

“Kau dan dia? ‘Kau dan dia’ siapa yang kau maksud?” tanya Mi Young dan SoonKyu yang baru datang.

Sooyeon melemparkan tatapan tajamnya. Jinki mengedik ngeri karenanya. Ia segera menggeleng dengan mulut masih dibekap oleh Sooyeon.

“Ya, Sooyeon-ah~ kenapa kau membekapnya?” tanya SoonKyu bingung.

“Tadi aku baru saja bermain sesuatu dengannya. Permainan yang tidak akan kalian mengerti,” jawab Sooyeon datar lalu melepaskan tangannya.

“Ku dengar Donghae hyung akan ke Jeju hari Minggu nanti, ya?” tanya Jinki sambil mengatur nafasnya.

“Maja.”

“Berarti dia sudah dipercaya untuk memegang perusahaan Sendbill di Jepang, ya?” Sooyeon membeku. Jinki dan yang lainnya menatap Sooyeon bingung.

“Ya! Jawab aku, Yeonnie~” rengek Jinki.

“Sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat, Jinki-ssi..” peringat Mi Young gemas.

“Baiklah aku akan diam.”

>>>

“Ya, Sooyeon-ah~ kau mau kemana?” tanya Donghae saat melihat Sooyeon keluar dari pintu rumah dengan membawa koper besar.

“Koper ini akan ku letakkan di bagasi mobilmu, oppa,” jawab Sooyeon dengan wajah serius.

“A-apa maksudmu?” bingung Donghae.

“Aku takkan membiarkan kau pergi lagi untuk yang kedua kalinya.” Donghae terdiam mendengarnya.

“Kenapa diam, oppa?”

Donghae menatap dalam Sooyeon lalu mengacak rambutnya lembut. “Tenanglah. Kau takkan kehilanganku. Kau hanya perlu cari namja lain.”

“Eh? Apa maksudnya?”

“Aniyo~”

Sooyeon memicingkan matanya. “Ada yang kau sembunyikan. Mworago?”

Donghae mengerjap, “Mwoya? Eobseo..”

“Gotjimal.”

Donghae menghela nafas panjang lalu mengedikkan bahunya malas. “Terserahmu lah.”

“Ah oppa~!” protes Sooyeon.

“Sekarang urusanmu hanya kembalikan kopermu ke tempat semula~” seru Donghae seraya merebut koper itu dan berlari ke kamar Sooyeon.

“Ya!” Sooyeon segera mengejarnya.

On Friday.

Jinki sudah berdiri manis di depan pintu kelas Sooyeon. Hari itu mereka sudah berjanji ingin ke toko buku bersama. Setelah itu, mereka akan ke restoran cepat saji karena Jinki ingin mengobati kerinduannya pada ayam. Hampir 3 hari ini Jinki tidak makan ayam karena ia sedang di hokum oleh ummanya.

Sooyeon menyampirkan tasnya lalu berlari kecil menghampiri Jinki. Di belakang mereka, SoonKyu dan Mi Young memandang mereka lirih sambil merengut. Mereka ingin ikut dengan Sooyeon namun malas kalau harus melihat Jinki makan ayam.

“Kkaja!” seru Sooyeon.

Jinki melirik SoonKyu dan Mi Young bingung. “Mereka ga ikut?”

Sooyeon menggeleng, “Mereka ga mau.”

“Aku malas hanya melihat OnChicken beraksi,” celetuk SoonKyu.

“Maja,” setuju Mi Young.

Jinki menatap tajam mereka. Mi Young dan SoonKyu segera berlari pergi. Jessica menatap Jinki bingung lalu menarik tangannya paksa.

“Ya, Sooyeon-a~” panggil Jinki. Jinki menahan tangan Sooyeon agar Sooyeon berhenti menarik tangannya.

“Wae?” tanya Sooyeon.

“Sesungguhnya aku agak ragu. Aku tak yakin ini benar atau tidak. Tapi sepertinya rencana kita, kita tunda dulu. Lebih baik kita ke rumahmu,” ujar Jinki dengan suara serius.

“Apa maksudmu?” bingung Jessica.

“Ku dengar Donghae hyung mempercepat kepergiannya. Jadi dia akan berangkat hari ini,” jawab Jinki ragu.

“Ya! Hari ini dia berjanji menghabiskan malam bersamaku. Hari ini kan hari kesukaannya. Tak mungkin dia pergi meninggalkanku di hari kesukaannya. Karena setiap hari kesukaannya ini, dia selalu berusaha untuk menghabiskannya denganku,” bantah Sooyeon.

“Yea, aku sebenarnya tidak yakin soal ini. Tapi apa salahnya jika kita mengecek ke rumahmu?” usul Jinki.

Sooyeon menatapnya nanar lalu mengangguk. “Ok.”

Sooyeon’s house.

Sooyeon segera berlari ke kamar oppanya sedangkan Jinki berlari ke dapur karena mencium bau ayam goreng.

Sesaat kemudian Sooyeon sudah ada di hadapan Jinki yang asik mengunyah ayam goreng itu. Dia menoyor kepala Jinki lalu menariknya pergi dengan kesal.

“Ya~ eoddiga?” tanya Jinki heran.

“Ke kantor appa. Dari buku jadwalnya yang ada di kamarnya, dia masih punya jadwal meeting di kantor appa dengan client,” jawab Sooyeon dengan suara dingin. Jinki jadi merasa bersalah mendengar nada bicara Sooyeon.

“Emm.. kau marah karena aku selingkuh dengan ayam, ya? Makanya suaramu jadi dingin,” tebak Jinki.

Sooyeon langsung berbalik badan, “Ya, Jinki-ya! Neo jeongmal baboya!”

Donghae’s side.

Donghae berjabat tangan dengan para client lalu mempersilahkan mereka keluar. Setelah semuanya pergi, ia kembali terduduk dan mengurut pelan keningnya. Sore ini pemberangkatanku ke Jeju. Semoga Sooyeon bersenang-senang dengan Jinki hari ini dan baru pulang nanti malam, SoonKyupnya dalam hati.

“Sajangnim. Kita harus bersiap-siap ke bandara sebentar lagi,” tegur sekertaris Shin.

Donghae segera membungkuk mengerti, “Arasso.”

“Baiklah sekarang kau istirahat saja. Nanti setelah aku selesai mengurus semuanya, aku akan memanggilmu untuk pergi,” katanya.

“Ye.”

“Sillyehamnida, sajangnim,” pamitnya. Donghae hanya mengangguk lalu menyandarkan badan dan menutup matanya.

“Sajangnim, uh? Maja, sajangnim. Sebentar lagi kau akan menjadi direktur di perusahaan cabang Jepang. Wae? Mau meninggalkanku lagi, eh?” suara itu membuatku menahan nafasnya. Dia membuka matanya dan terbelalak.

“S-Soo-Sooyeon-ah?” panggilnya tergagap. Di ambang pintu, Sooyeon berdiri angkuh dan disampingnya ada pengawal setianya; Jinki.

“Sudah cukup kau meninggalkanku selama 3 tahun keluar negeri hanya karena alasan melupakan gadis yang kau cintai karena kau tidak boleh mencintainya. Sekarang, apalagi? Kau sepertinya senang sekali melihatku kesepian menunggu kepulanganmu.” Sooyeon melanjutkan kata-katanya matanya memanas.

“Sooyeon-ah~” gumam Donghae.

“Apa keinginanmu sebenarnya? Kau puas melihatku menderita karena kehilanganmu? Kau tahu aku selalu menjagamu dari segerombolan wanita yang mendekatimu. Aku selalu mengancam setiap wanita mendekatimu. Kau tahu itu karena apa? Karena aku tak mau kehilanganmu, oppa! Sekarang ternyata segala perbuatanku percuma. Kau jahat padaku. Kau jahat…” air mata Sooyeon mulai mengalir perlahan.

Donghae mengepalkan tangannya gemas. Dia bangkit dan menarik tangan Sooyeon hingga gadis itu masuk ke dalam ruang rapat itu lalu mengunci pintunya. Jinki hanya terdiam di depan pintu tak mengerti.

“Berhenti menangis, Yeonnie. Kau tau aku benci melihat seorang gadis menangis di depanku,” mohon Donghae.

“Kenyataannya kau sendiri yang membuatnya menangis, oppa!” balas Sooyeon berteriak.

“Jebal, Lee Sooyeon~” bisik Donghae pelan.

Sooyeon menatap Donghae tajam. Dia menunjuk Donghae dengan tangan bergetar. “Kau jahat…” desisnya dalam.

Donghae menghapus air mata Sooyeon dengan kedua ibu jarinya. “Aku melakukan ini untuk kebaikan kita,” jelas Donghae.

“Kebaikan apa?”

“Kau mau tahu apa yang terjadi sebenarnya?”

Sooyeon mengangguk dengan gaya menantang. “Tentu.”

“Karena setiap aku bersamamu, aku tersiksa. Aku harus selalu menahan diri. Aku tak suka dengan semua ini!” Donghae menekan kalimatnya.

“M-mwo? A-apa maksudmu? Kau membenciku?” tanya Sooyeon kecewa. Air matanya semakin deras.

Donghae tersenyum sinis. “Kau mau tahu maksudku sebenarnya?” tanya Donghae.

Donghae segera menarik tengkuk Sooyeon dan melumat bibir adiknya itu. Sooyeon hanya bisa mengerjap. Dia tak bisa berhenti menangis.

“Kau mengerti sekarang, eh? Aku pergi karena aku mencintaimu! Kau juga lah yang menjadi alasanku pergi beberapa tahun yang lalu!” ujar Donghae membentak.

Sooyeon menghapus air matanya gemas lalu mengecup bibir Donghae cepat. “Lalu apa bedanya denganku, oppa?” tanya Sooyeon. “Itu sebabnya aku tak memperbolehkan seorang wanita pun dekat denganmu. Bahkan walaupun dia sahabatku yang paling ku sayangi.”

“Tapi aku tak bisa,” lirih Donghae sambil mengacak pelan rambut Sooyeon.

“Wae?”

“Kau adikku.”

Sooyeon emosi mendengarnya. “Kenapa hanya karena itu? Bahkan kita tidak satu appa maupun eomma! ommaku menikah dengan appamu saat kita berdua sudah lahir! Kita tak ada hubungan darah. Kenapa hanya karena itu, kau tak bisa?”

“Karena appa sudah benar-benar menganggapmu sebagai anak kandungnya. Dan karena aku sudah mempunyai calon istri,” jawab Donghae dengan suara nyaris terdengar tenang.

“Oppa jahat,” desis Sooyeon.

Tiba-tiba pintu terbuka dan sekertaris Shin muncul. Donghae tersenyum lega. “Mian, Sooyeon-ah. Oppa harus pergi sekarang. Na ganda,” pamit Donghae.

Sooyeon memandangnya nanar lalu menendang kakinya keras. Sooyeon segera berlari keluar. Donghae meringis kecil karenanya.

“Ige mwoyeyo?” tanya sekertaris Shin.

Donghae mengelus kakinya lalu menggeleng, “Eobseo.” Dia segera berjalan dengan tegap keluar dari ruangan.

>>>

Jinki mengejar Sooyeon lalu menahan tangannya. Sooyeon terhentak dan berhenti berlari. Dia memandang lirih Jinki.

“Ayam~” ujar Jinki sambil memperlihatkan bungkusan dari kertas yang berisi ayam goreng. Sooyeon langsung tergelak melihatnya. Jinki tersenyum kecil melihatnya.

A few months later.

“Oppamu akan menikah di Jepang besok. Kau mau pergi dengan kami? Oppamu mengSoonKyupkan kedatanganmu,” beritahu nyonya Lee.

Sooyeon yang hendak menyuap makanannya, terdiam. Dia menoleh perlahan ke kedua orangtuanya lalu menggeleng sambil tersenyum paksa. “Aku tidak bisa. Aku sedang sibuk-sibuknya. Mian.”

“Tapi oppamu akan sangat kecewa mendengar itu, Soo..” tanggap appanya.

“Mian. Tapi sebentar lagi akhir semester, appa,” jelas Sooyeon.

“Baiklah. Biar kami yang menjelaskannya pada oppamu,” kata tuan Lee akhirnya.

“Lagian kenapa mendadak sekali?” herannya.

“Ani. Aku sudah mempersiapkannya tanpa setahumu. Semuanya sudah selesai. Tak ada yang mendadak. Hanya kau saja yang baru diberitahu. Oppamu yang memintanya,” jelas appa.

Sooyeon menahan nafasnya saat mendengarnya. Ia bangkit dan pamit pergi.

“Pasti anak itu sebenarnya tak rela melihat oppanya dengan orang lain. Bodoh~” desis nyonya Lee.

“Ku yakin Donghae punya rencana lain,” ujar tuan Lee menenangkan istrinya.

Sooyeon’s room.

Sooyeon membuka laptopnya yang sedari tadi hanya ia set sleep. Dia segera membuka twitternya dan mentweet, “Neomu apha.”

“Puas sekali rasanya sekarang, ya? Iya, kan oppa?” gumam Sooyeon lirih.

>>>

Donghae memandang layar laptopnya lalu tersenyum puas. “Pintar~”

>>>

Sooyeon berlari ke kelas Jinki namun ternyata Jinki tak masuk kelas itu. Sooyeon meniup poninya gemas lalu menghubungi telepon Jinki tapi hp Jinki tidak aktif.

“Gee!” kesalnya sambil menghela nafas kasar. Padahal saat itu ia sangat ingin bertemu dengan sepupu sekaligus sahabat dari bayinya itu.

Tiba-tiba ada yang membekap mulutnya. Semua yang dilihat oleh Sooyeon mendadak menjadi hitam.

Sooyeon pov.

Aku membuka mataku perlahan. Saat aku sudah sepenuhnya sadar, aku mengerjap kebingungan. Dimana aku? Dan.. KYA! Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku memakai pakaian pengantin? Dan dandanan ini.. kya! Michyeoseo!

“Sooyeon-ah~” seru seseorang.

Aku menoleh. Itu Jinki! Dengan pakaian formal. Jangan-jangan.. “Aku akan dinikahkan denganmu?” pekikku tak percaya.

Jinki langsung menghampiriku dan menoyorku. Aku meringis lalu menggerutu pelan karenanya.

“Siapa juga yang ingin menikahimu? Ya kecuali namja itu. Aku sudah terlalu mengenalmu hingga aku selalu berdoa disetiap waktunya agar tidak menjadi jodohmu,” cibir Jinki.

“Aku tahu sebenarnya kau itu mencintaiku hanya saja karena aku mencintai orang lain jadi kau malah berbicara seperti itu. Iya kan?” cibirku balik.

“Mwoya? Tak ada di kamusku untuk mencintaimu! Cish~ tapi.. kau cantik juga kalau di dandani macam ini. Chukkaeyo,” balasnya lalu berlari pergi.

Eh? “Ya!” panggilku. Aku sampai lupa bertanya kenapa aku ada disini. Sial!!

>>>

“Jagi~ kau cantik,” komentar umma saat melihat penampilanku.

“Umma~ kenapa aku ada disini?” bingungku –tak menanggapi komentarnya tadi.

“Kau harus melihat pernikahan oppamu,” jawab umma dengan senyum cerah. Gee! Bahkan itu hal yang paling ingin ku hindari!

“Tapi harus dengan penampilan seperti ini?” tanyaku lagi.

Umma mengangguk, “Maja. Kkaja~ sudah waktunya.”

Aku hanya menurut. Di dekat pintu, appa menyambutku dengan senyuman hangat. Entah mengapa perasaanku tak enak. Appa mengambil tangan kananku ada menggandeng tangannya dengan formal. Ok, aku ikuti permainan mereka.

>>>

Pikiranku kosong mendadak saat melihat Donghae oppa berdiri di atas altar dan tersenyum padaku. Dan.. dan.. appa! Kenapa masih juga jalan? Oh tidak. Tenang Sooyeonnie~ ikuti permainan mereka. Aku masih penasaran apa maksudnya semua ini.

Aku dan appa sampai di atas altar. Appa menyerahkanku pada Donghae oppa yang masih menampakkan senyum konyolnya.

“Apa maksudnya semua ini?” tanyaku berbisik padanya.

“Aku hanya ingin memiliki gadisku,” jawabnya yang terdengar.. enteng? Hish! Tak sadarkah kalau saat ini jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat.

“Apa maksudmu, oppa?”

“Aku ingin memilikimu karena aku mencintaimu dan juga semuanya telah merestuinya.”

Aku menggigit bibir bawahku. Rasanya aku ingin sekali menendang kakinya seperti biasanya jika aku marah padanya. “Kau bodoh,” desisku. Air mata terharu mengalir perlahan di pipiku.

“Ssshh.. uljima,” katanya sambil menghapus air mataku.

===He’s not My Brother===

18 pemikiran pada “he’s not my brother (oneshoot)

  1. aku kira beneran cinta terlarang. Ternyata saudara tiri.
    Suka bgt ma karakternya sica di sini. Msh tetep galak tapi manis.
    ga nyangka endingnya kayak gini.
    Nice ff chingu.

  2. Eh maaf, tolong bilang ke temenmu untuk minta maaf ke saya karna seenaknya merepost dan mengubah castnya jadi haesica. Sumpah ini ff saya. Semua reader saya bisa menjadi saksinya. Dan lagi menurut reader saya yg mengadukan ff plagiat ini kepada saya, ada beberapa kata yang luput dari editan temenmu itu. Itu bisa menjadi bukti. Dimohon untuk hapus postan ini sebelum temenmu itu minta maaf. Dan jangan lupa untuk mengganti nama authornya menjadi nama saya. Terima kasih

    • Sebelumnya, aq minta ma’af bgd ya sma chingu, aq gak bermaksud untuk, mengambil hak milik dari ff ini.
      Waktu aq repost dari Uzie emang udah HaeSica kok cast’a, dan d.fb dia jg ad yg cment kalau ff itu ff onnie’a, mungkin itu kamu, soalnya pada saat itu aq belum ngerti apa2 tentang blog jd aq minta izin post’a sma uzie, dan aq jga belum tahu apa’pun…ma’af ya?
      Jeongmal mianhae….

      Aku akan hapus post’n ini kok, sekali lagi aku selaku admin mohon ma’af yg sebesar2’a, ini memang kesalahan saya…
      #deep bow

  3. kkkyyyaa….
    bagus nih ff.y :)
    yeyeyyeyeye akhirnya nemu juga ff haesica ^^
    salm knl thor
    dari pertm kasian juga sih ma haesica hany karn terhlang status sodara mreka jd mendrta, tp ternyata baca merek bkn sodara kandung rasany seennnennngg banget wae past mreka bisa menikah well happy ending
    lanjut
    Hwaiting (Y)

  4. SETELAH MENELUSURI BEBERAPA FAKTA TENTANG COUPLE HAESICA, AKU SEMAKIN SUKA, BAHKAN AKU BERHARAP MEREKA MSH JADIAN SAMPAI SEKARANG.

    CERITANYA KEREN AKU SUKA HEHE

    #KEYPAD ERROR

We really appreciate your comment ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s